Senin, 25 Mei 2009

Irena Handono Laporkan Diki Candra Cs ke Mabes Polri

Irena Handono Laporkan Diki Candra Cs ke Mabes Polri
Tabloid Suara Islam edisi 67, tanggal 15 Mei-5Juni 2009M
http://suara-islam.com/index.php/Nasional/Irena-Handono-Laporkan-Diki-Candra-Cs-ke-Mabes-Polri.html


Irena Handono didampingi Tim Pembela hukumnya mengajukan laporan pengaduan (LP) tindak pidana Fitnah yang dilakukan oleh Diki Candra Cs. Di rencanakan Irena bersama pengacaranya akan melapor ke mabes Polri siang nanti (7/4) Pukul 13.00 WIB.

Diki akan di tuntut dengan beberapa pasal tentang Menista dan Mencemarkan nama baik, sebagaimana dikualifisir melanggar Pasal 310 Ayat (1), Ayat (2) KUHP Jo. Pasal 311 KUHP Jo. Pasal 335 KUHP Jo. Pasal 55 KUHP Jo. Pasal 27 Ayat (3), Pasal 28 Ayat (2) UU No.11 Tahun 2008, tentang informasi dan transaksi elektronik. Tindakan-tindakan fitnah ini patut diduga dilakukan bersama-sama secara sistematis oleh Imam Safari, Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry dan Habib Muchsin Ahmad Alatas dari lembaga ARIMATEA.Fitnah tersebut di buat dengan kalimat, "Bahwa saya telah melihat Ustazah Irene Handono di suatu gereja di Singapura dengan berpakaian biarawati dan mengenakan kalung salib serta asesoris pakaian biarawati Katholik. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dia adalah ibu Irene Handono" dalam surat pernyataan Imam Safari tertanggal 13 September 2008 yang dipersaksikan dan ditanda-tangani oleh enam orang dari Arimatea, yakni: Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry.Menurut Irene, Perbuatan-perbuatan fitnah tersebut berakibat merusak kepercayaan dan menghancurkan, reputasi dan nama baik.

Tindakan ini juga bertendensi mengadu domba dan memfitnah para aktifis dan tokoh Islam lainnya sehingga berpotensi memecah belah ukhuwah Islam yang sangat merugikan umat Islam. Tindakan ini mirip tindakan Snouch Hurgronje yang menyusup dan mengkhianati masyarakat Islam Aceh di zaman penjajahan Belanda dulu. (mj/www.suara-islam.com)

Jumat, 08 Mei 2009

IRENA HANDONO POLISIKAN DIKI CANDRA

Hj.Irena Handono didampingi ketua Tim Pembela Irena Handono, Muhammad Ihsan, SH.

IRENA HANDONO POLISIKAN DIKI CANDRA

Hajjah Irena Handono melaporkan Diki Candra, Habib Muhsin Ahmad Alatas dan Imam Safari ke Mabes Polri karena memfitnah dan mencemarkan nama baik.

Pada hari ini, Kamis 7 Mei 2009, Hajjah Irena Handono dan tim pengacaranya mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan perbuatan mencemarkan nama baik, menebar kebencian dan perbuatan memfitnah atas dirinya yang dilakukan oleh Diki Candra, Sekjen Lembaga Arimatea, Habib Muhsin Ahmad Alatas, Ketua Umum Lembaga Arimatea dan seseorang yang bernama Imam Safari.

Melalui surat kepada Dewan Pembina Arimatea Pusat, tertanggal 17 Februari 2009, Diki Candra dan Habib Muhsin Ahmad Alatas menyebutkan Imam Safari memergoki Irene Handono berpakaian biarawati dan memakai kalung salib dalam pertemuan tertutup di sebuah gereja di Singapura. Surat itu dalam bentuk fotocopy, ternyata beredar luas di masyarakat.

Surat yang mengandung fitnah, pencemaran nama baik serta penyebaran kebencian juga diedarkan melalui situs internet http://forum-arimatea.blogspot.com/. Penyebaran melalui situs internet tersebut patut diduga telah melanggar pasal 27 ayat 3 dan pasal 28 ayat 2 UU RI No.11 tahun 2008.

Selebaran itu melampirkan surat pernyataan Imam Safari yang ditandatangani diatas segel Rp.6000 dan dibuat di depan enam orang tim Arimatea. Enam orang Tim Arimatea itu juga menandatangani sebagai saksi yang mendengarkan pernyataan Imam Safari tersebut.

Surat yang ditandatangani oleh Diki Candra dan Habib Muhsin Ahmad Alatas itu menambah fitnah, pencemaran nama baik serta penyebaran kebencian dengan menyatakan kesaksian panitia penjemput acara Tabligh di Jakarta melihat Irene menggunakan kalung salib di balik baju rumahan yang tidak sengaja tersingkap. Juga kesaksian jemaah lain yang melihat dibalik baju Irene ada salib.

Diki Candra dan Habib Muhsin Ahmad Alatas menyatakan bahwa Irene itu adalah seorang penyusup maka jangan dimanfaatkan untuk berdakwah.

Semula Hajjah Irena Handono tidak ingin menaggapi fitnah, pencemaran nama baik serta upaya penyebaran kebencian dan pembunuhan karakter, namun karena banyaknya ummat yang terusik dan bahkan terguncang sehingga menimbulkan kegelisahan, pro dan kontra, maka langkah hukum secara fomal akhirnya terpaksa ditempuh agar tidak memecah-belah dan mengadu domba umat Islam.

Hajjah Irena Handono menyatakan, dahulu dia menggapai hidayah Islam dengan difitnah dan dicaci maki. Dan sekarang yang paling menyakitkan, fitnah itu dilontarkan oleh orang yang mengaku beragama Islam.

”Dengan sangat prihatin saya mempertimbangkan antara manfaat dan mudharatnya, maka langkah hukum ini harus saya tempuh untuk menyatakan yang benar adalah benar dan yang bathil adalah bathil,” kata Hajjah Irena Handono.


Bekasi, 6 Mei 2009
Humas Irena Center


Sally Setianingsih


*Informasi lebih lanjut menghubungi Humas Irena Center,
Sally Setianingsih (085888282418). Kantor Irena Center – 02188855562.

Menyingkap Fitnah & Penyusupan ke dalam Umat Islam

Penjelasan Tambahan
Bismillahirrahmanirahim.

Menyingkap Fitnah & Penyusupan ke dalam Umat Islam

Pada hari ini Kamis, 7 Mei 2009 Saya, Hajjah Irena Handono dengan didampingi Tim Pembela Irena Handono mengajukan laporan pengaduan (LP) tindak pidana Fitnah, Menista dan Mencemarkan nama baik terhadap sebagaimana dikualifisir melanggar Pasal 310 Ayat (1), Ayat (2) KUHP Jo. Pasal 311 KUHP Jo. Pasal 335 KUHP Jo. Pasal 55 KUHP Jo. Pasal 27 Ayat (3), Pasal 28 Ayat (2) UU No.11 Tahun 2008, tentang informasi dan transaksi elektronik. Tindakan-tindakan fitnah ini patut diduga dilakukan bersama-sama secara sistematis oleh Imam Safari, Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry dan Habib Muchsin Ahmad Alatas dari lembaga ARIMATEA.

Fitnah, Menista dan mencemarkan nama baik tersebut ada dalam kalimat, "Bahwa saya telah melihat Ustazah Irene Handono di suatu gereja di Singapura dengan berpakaian biarawati dan mengenakan kalung salib serta asesoris pakaian biarawati Katholik. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dia adalah ibu Irene Handono" dalam surat pernyataan Imam Safari tertanggal 13 September 2008 yang dipersaksikan dan ditanda-tangani oleh enam orang dari Arimatea, yakni: Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry.

Selanjutnya surat pernyataan ini dengan sengaja disebarluaskan dengan menambah fitnah, nista, pencemaran nama baik lainnya dalam ”Surat Hasil Investigasi Terhadap Irene Handono”, tertanggal 17 Februari 2009 oleh Arimatea. Fitnah tambahan ini termaktub jelas dalam kalimat surat tsb sbb:

”Pada tgl 13 Februari 2009, kita mendapat informasi bahwa ada seorang Ustadz telah mendapat laporan dari dua orang jamaah yang berbeda, yang melihat bahwa ;
• Kesaksian pertama; Ybs adalah panitia acara taklim, yang bertugas sebagai penjemput Irene. Disaat kedatangan ke rumahnya, ybs melihat Irene menggunakan kalung salib dibalik baju rumahan yang dikenakan Irene, yang tidak sengaja tersingkap. Saat dijemput tsb kondisi Irene belum siap, sehingga masih menggunakan baju rumahan.
• Kesaksian dari yang lain; Dalam sebuah pertemuan/acara, ybs melihat dibalik baju Irene terlihat ada salib
Semua keterangan fitnah ini disebar-luaskan secara tertulis melalui selebaran, sms dan internet kepada masyarakat luas oleh pihak Arimatea yang diketuai oleh Habib Muhsin Ahmad Alatas dan Diki Candra. Rilis fitnah ini secara terbuka dimuat dalam situs internet Arimatea (http://forum-arimatea.blogspot.com/ dan http://forum-arimatea.blogspot.com/2009/02/hasil-investigasi-terhadap-irene.html)

Perbuatan-perbuatan fitnah tersebut berakibat merusak kepercayaan dan menghancurkan, reputasi dan nama baik saya sebagai ustazah. Semua tindakan fitnah ini menyebabkan kegelisahan dan kegalauan umat serta jamaah saya di seluruh penjuru Indonesia dan di luar negeri. Tindakan ini juga bertendensi mengadu domba dan memfitnah para aktifis dan tokoh Islam lainnya sehingga berpotensi memecah belah ukhuwah Islam yang sangat merugikan umat Islam. Tindakan ini mirip tindakan Snouch Hurgronje yang menyusup dan mengkhianati masyarakat Islam Aceh di zaman penjajahan Belanda dulu.

Demi Allah, saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti apa yang dituduhkan oleh oknum-oknum Arimatea dan jaringannya. Saudara-saudari kaum muslimin dan muslimat serta khalayak luas dapat mencari tahu tentang saya kepada para aktifis Islam yang pernah kenal dengan saya, majelis-majelis yang pernah saya hadiri atau menyimpulkan sendiri dari buku saya, ”MENYINGKAP FITNAH & TEROR” dan ”ISLAM DIHUJAT”. Insya Allah, Allah Yang Maha Kuasa akan memberikan hidayah kepada saudara dan saudari untuk mengungkap siapa sebenarnya yang ”Snouch Hurgronje” dalam masalah ini.

Semula saya tidak ingin menanggapi fitnah, pencemaran nama baik serta upaya penyebaran kebencian dan pembunuhan karakter tersebut. Selama ini tindakan-tindakan fitnah, cacimaki dan teror yang tidak henti-hentinya saya hadapi semenjak saya menjadi Muslimah pada tahun 1983. Semua itu lebih banyak saya hadapi dengan sabar dan menyerahkan sepenuhnya kepada balasan Allah Yang Maha Adil. Namun karena banyaknya desakan umat dan tokoh Islam yang terusik bahkan terguncang oleh berita fitnah tersebut, maka dengan terpaksa saya menempuh langkah hukum formal ini.

Saya hanya dapat berdo’a, semoga Allah menerangi jiwa dan memberikan hidayahNya kepada para penegak hukum, tokoh & aktifis muslim dan masyarakat luas untuk dapat melihat dan mengungkap dengan jelas siapa sebenarnya ”Snouch Hurgronje”nya. Saya sangat yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a orang-orang yang dizalimi (QS.2:186).
InsyaAllah!

(Hj.Irena Handono)

KRONOLOGIS PERISTIWA

KRONOLOGIS PERISTIWA
Fitnah Diki Candra atas Irena Handono

November 2008, MUI Bali melalui Ustad Hasan Basri yang disampaikan kepada Bpk.Didiet, menyampaikan keinginan untuk mengundang Hajjah Irena Handono sebagai penceramah dalam Tabligh Akbar di Bali. Kemudian Bpk. Didiet menghubungi Manajemen Hajjah Irena Handono untuk mengagendakan waktu kegiatan yang ditetapkan tanggal 9 dan 10 Januari 2009.

Desember 2008, Diki Candra datang ke Bali bertemu dengan Ustad Hasan Basri dirumahnya yang disaksikan oleh Bpk. Didiet. Diki Candra menunjukkan Surat Pernyataan yang dibuat oleh Imam Safari tentang Irena Handono melalui Laptopnya.
Isi Surat Pernyataan:
Imam Safari Menyaksikan Irena Handono keluar dari Gereja di Singapore memakai pakaian Biarawati dan Salib.

Ustad Hasan Basri dan Bpk. Didiet bertanya kepada Diki Candra: “Apa sudah tabayyun dengan Ibu Irena Handono supaya tidak menjadi fitnah?”

Jawaban Diki Candra: “Jangan Tabayyun, kita khan orang pergerakan, jadi harus main sedikit inteligen. Kasus Irena Handono tidak bisa diselesaikan dengan tabayyun tapi Irena Handono harus diinvestigasi!”

9 Januari 2009, Hajjah Irena Handono datang ke Bali dengan didampingi suami dan anaknya. Dijemput oleh panitia Bali dan Bpk Didiet, siang tersebut Hajjah Irena Handono berjumpa dengan Ustad Hasan Basri untuk makan siang sekaligus klarifikasi (tabayyun) mengenai fitnah yang beredar.
Siang, setelah makan siang, Hajjah Irena Handono berceramah di Masjid An-Nuur.
Malam, berceramah di rumah Ketua PITI Bali, Bpk Wahyuda Gowantara.
Ketika sesi tanya jawab, ada peserta yang bertanya: “Umi saya mendengar berita bahwa ada yang melihat umi keluar dari gereja di Singapore dengan memakai pakaian Biarawati dan bersalib. Bagaimana Umi membuktikan kepada kami bahwa Umi bukan penyusup?”
Hajjah Irena Handono menjawab: “Kalau saya harus membuktikan…! Baiklah saya mengajak MUBAHALLAH kepada Diki Candra yang menyampaikan berita dan Imam Safari yang membuat Pernyataan. Silahkan sampaikan kepada yang bersangkutan. Bahwa saya datang bersama Suami dan anak-anak dan kami menginap! Silahkan besok datang bersama istri-istri dan anak-anak! Kita bermubahallah disaksikan MUI dan diliput Pers.”
Februari 2009, Menyebar surat ke berbagai penjuru tanah air, melalui internet dan foto copy dengan Kop Surat Arimatea tertanggal 17 Februari 2009, yang ditujukan kepada Dewan Pembina Arimatea Pusat. (lihat lampiran:1)
**(Komentar: Surat yang ditujukan kepada Dewan Pembina Arimatea juga dibagi-bagikan ke khalayak ramai. Apa maksudnya?)
21 Februari 2009, Hajjah Irena Handono menerima copy surat tersebut dari jamaah yang hadir pada tanggal 21 Februari 2009 sebagai peserta di Pengajian Arimatea di Wisma Muallaf, Bintaro Sektor 9. Fotocopy surat tersebut didapatkan langsung dari Diki Candra yang juga dibagikan ke seluruh jamaah.
17 Maret 2009, Hajjah Irena Handono menerima copy surat tersebut dari Guru Agama SMAN 86 Jakarta, setelah tanggal 16 Maret 2009 memberikan ceramah di Masjid Jami’ Bintaro Jaya untuk siswa-siswi dan staf SMAN 86 Jakarta.
Diki Candra menyebarkan surat tersebut melalui internet (http://forum-arimatea.blogspot.com/2009/02/hasil-investigasi-terhadap-irene.html) yang dilengkapi kolom komentar sehingga mengundang banyak komentar (lihat lampiran:2).

Namun seluruh komentar yang berjumlah 53 komentar pro dan kontra tersebut dihapus setelah lebih banyak bernada mendukung Hajjah Irena Handono. Sehingga hanya bersisa surat yang berisikan fitnah terhadap Hajjah Irena Handono.

Fitnah lewat SMS juga beredar dimasyarakat Umum (lihat lampiran:3)

21 Maret 2009, Diki Candra atas nama Forum Arimatea menampilkan berita di internet (http://forum-arimatea.blogspot.com/2009/04/5-tahun-diam-kini-saatnya-bicara-bag2.html) lihat lampiran:4.
Juga lihat selanjutnya lampiran:5 yang berisi fitnah. Dalam tulisan ini bukan saja Hajjah Irena Handono yang dipersoalkan tetapi juga Ketua MUI Pusat KH. Cholil Ridwan, Ustad Insan LS Mokoginta, Bpk. Mowo Purwito R (Muhammad Yusuf Muttaqien) serta menyebut nama lembaga lain yakni DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), MMI (Majlis Mujahidin Indonesia).
April 2009, Hajjah Irena Handono mendapatkan kiriman foto copy data tentang Diki Candra dan Arimatea (lihat lampiran:6) juga fotocopy tulisan yang berjudul MAKLUMAT ARIMATEA I s/d V. (lihat lampiran:7)

Senin, 06 April 2009

Kristenisasi Lewat Jalur Politik, Hadapi dengan POROS MASJID!


Oleh: Hj.Irena Handono


“Salib itu kan perlambang hablumminallah dan hablumminannas seperti di Islam. Dan salib itu juga lambang berserah diri, yang juga menjadi salah satu hakikat ajaran Islam,” jelas Asrianty Puwantini, caleg ’kontroversial’ PDS dari Jawa Timur.


Akhir-akhir ini heboh beredar di internet, televisi swasta, berita tentang caleg wanita Partai Damai Sejahtera (PDS) yang memakai jilbab. Kemudian pertanyaan yang mencuat adalah apakah ini merupakan salah satu dari upaya kristenisasi yang mana mereka saat ini menempuh jalur partai politik?


Dengarlah apa yang disampaikan ahli etika Kristen Pendeta Dr.Verkuil yang berujar bahwa berpolitik bagi warga gereja merupakan pengabdian kepada Kristus Kepala Gereja. Dengan kata lain, kehadiran Kristen di panggung politik adalah suatu panggilan yang wajib ditunaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban iman.


Pecah belah suara umat Islam
Terbukanya kesempatan untuk membuat partai-partai baru di era reformasi, membuat suara umat islam yang dahulu terkerucut pada satu partai yakni PPP (Partai Persatuan Pembangunan) menjadi terpecah belah kepada sekian banyak partai. Kondisi ini sejenak terasa bagaikan angin segar bagi perpolitikan di Indonesia namun sesungguhnya justru sebaliknya. Disaat umat Islam sibuk dibingungkan dengan berbagai partai, di iming-iming seolah-olah setiap orang bisa duduk di kursi legeslatif. Sementara disisi lain umat kristen merapatkan diri hanya mendukung satu partai. Ketika partai kristen ini melampaui jauh batas minimum suara untuk dapatkan kursi legeslatif, maka partai-partai umat islam hanya mendapatkan suara yang tidak memenuhi kuota, dan akhirnya tidak mampu menyaingi partai kristen untuk berkuasa dalam parlemen. Kita lihat saja, perimbangan keterwakilan kaum muslimin di parlemen sampai sekarang ini masih jauh dari proporsional dibandingkan dengan kristen. Kalau jumlah non muslim di negeri ini tidak lebih dari 20% maka semestinya jumlah mereka di parlemen tidak lebih dari 20% pula. Tetapi kenyataan proses dan hasil pemilu beberapa kali di negeri ini, kalangan kristen dapat masuk ke senayan bahkan dengan menaiki kendaraan partai yang beraroma Islam.


Politik Kristen
”Berpolitik bagi warga gereja merupakan pengabdian kepada Kristus”, Pendeta Dr.Verkuil. Perlu diketahui bahwa Politik Kristen tidak menyangkut PDS saja. Di awal lahirnya negara ini, ada Parkindo (Partai Kristen Indonesia), yang kemudian dimasa rezim Orde Baru, Parkindo meleburkan diri dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia).


Ketika memasuki Era Reformasi diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada warga negara membentuk partai-partai politik, orang-orang Kristen pun tidak ketinggalan menyambutnya. Mereka merasa berhak dan berkewajiban membentuk partai dengan nilai-nilai kekristenan. Maka lahirlah belasan partai kristen, walau dalam Pemilu hanya PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) (1999) dan PDS (Partai Damai Sejahtera) (2004) yang berhasil mengikutinya. Keduanya berhasil mendudukkan wakil-wakilnya di DPR-RI. Kristen secara politik mengenal sistem bipolar. Yang terdiri atas kutub konsentrasi dan kutub polarisasi. Kutub konsentrasi, adalah dengan maksud bahwa supaya ummat kristen punya perwakilan, mempunyai suara di legeslatif sehingga berangkat dari pemikiran ini umat kristen harus punya partai. Umat kristen di konsentrasikan untuk memilih PDS dengan tujuan agar PDS punya suara cukup besar hingga memiliki kursi di parlemen. Kutub polarisasi, adalah bahwa tidak semua tokoh kristen harus masuk PDS. Semua tokoh kristen harus menyebar ke partai-partai yang ada untuk mewarnai, mempengaruhi partai-partai yg lain. Partai-partai yang menjadi target ini adalah partai-partai terbuka yang bisa menerima orang kristen. Hal inilah yang tidak diketahui oleh umat Islam. Kedua kutub tersebut bermuara pada sebuah lembaga yang disebut FKKI (Forum Komunikasi Kristen Indonesia), lembaga tempat bersatunya seluruh kristen apapun partainya. Jadi bukanlah mustahil jika dikatakan sesungguhnya partai kristen mengetahui apa rahasia di partai-partai yang lain. Maka sesungguhnya program kristenisasi yang berbahaya adalah program kristenisasi secara tidak langsung. Partai kristen menyadari bahwa mereka secara jumlah adalah minoritas, maka mustahil untuk meraih massa namun target mereka adalah ”Tidak kuasai massa tapi kuasai sistem”. Sehingga cara yang diambil adalah bagaimana masuk dalam partai-partai yang ada dan menguasai partai-partai tersebut. Jika sistem mereka pegang maka mereka juga akan kuasai hal-hal yang lain dan otomatis massa itu sendiri akan terkendalikan.


Caleg PDS berjilbab
Partai Damai Sejahtera (PDS) walaupun secara jelas menunjukkan identitasnya dengan tanda gambar salib, namun terdaftar sebagai partai terbuka. Mereka membuka diri bagi orang Islam dengan memberikan porsi 20% kepada kalangan muslim. Dan justru yang dibidik adalah caleg dari kalangan muslimah. Mengapa demikian? Ketika umat kristen akan menjalankan misinya ’mencari domba-domba tersesat’ dengan jalan antara lain mendirikan gereja, mengadakan bakti sosial, dll, seringkali mendapat ganjalan dari umat Islam dan terbentur dengan perundang-undangan yang berlaku. Namun jika yang mewakili umat kristen ini adalah seorang muslim untuk berhadapan dengan umat islam dan aparat pemerintah, maka hasilnya tentu akan lain. Maka kita tidak heran jika di suatu daerah ada pendirian gereja ilegal namun didukung mati-matian oleh tokoh muslim yang notabene dia ustad atau pimpinan pondok pesantren. Artinya, ada kesengajaan partai kristen dalam merekrut caleg muslim dengan tujuan agar mereka menjadi ujung tombak untuk menentang syariat islam. Maka bukan orang kristen sendiri yang harus berhadapan dengan para aparat pemerintah tapi orang-orang muslim dalam partai kristen yg akan berhadapan. Lalu apakah mungkin menyuarakan kepentingan umat Islam melalui partai kristen? Ini adalah hal yang mustahil. Ketika seorang muslim menjadi caleg PDS maka mustahil dia akan mampu memperjuangkan kebijakan-kebijakan demi kebaikan umat.


Segala perundangan yang berbau syariah secara tegas ditolak oleh partai kristen. Contoh, Perbankan Syariah dan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Walaupun keduanya membawa kemaslahatan bagi masyarakat secara umum, namun ditolak dengan alasan ’menggelikan’ bahwa NKRI bukan negara agama.


PDI-P sebagai partai sekuler dan PDS yang mengatakan sebagai partai kristen secara konsisten mereka menolak syariah Islam untuk diterapkan oleh negara. Itu semua mereka sampaikan secara terbuka dan tegas. Setiap UU yang melanggar prinsip sekulerisme dan berbau syariah mereka tolak dengan gigih. Sekulerisme harga mati, syariah Islam wajib ditolak! Sementara sikap politisi Islam masih terlihat segan dan tidak tegas untuk katakan akan memperjuangkan syariah Islam. Bahkan terkadang bicara syariah Islampun enggan.


Potensi umat Islam Indonesia
Jumlah pemilih di Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan akan sebesar 171 juta suara. Dari jumlah tersebut pemilih muslim adalah 88 persen yang berarti sekitar 150 juta suara.


Dalam Pemilu 1955 suara partai Islam yang diwakili Masyumi dan NU mencapai 55 persen melebihi partai Nasionalis (PNI) dan komunis (PKI) yang hanya 45 persen. Tapi di Pemilu 1999 turun menjadi 38 persen, sementara di Pemilu 2004 makin turun lagi menjadi tinggal 34 persen. Perkiraan perolehan suara di Pemilu 2009 oleh berbagai lembaga survei, - PPP hanya akan dapatkan 4,15 persen - PKS hanya 4,07 persen (turun dari 7 persen di Pemilu 2004) - PKB akan turun dan memperolah 5 persen (dari 12 persen di pemilu yang lalu) - PAN kehilangan suara dan tinggal 4,7 persen (Survei oleh LP3ES pada Maret 2009) Maka total suara muslim dalam Pemilu 2009 hanya 17,29 persen. Lalu kemana jumlah 55 persen jika mengikuti hasil pemilu 1955? Greg Fealy, peneliti dari Australia National University (ANU) mengatakan, suara partai Islam pada Pemilu 2009 tidak akan sampai 20 persen. Hasil ini juga diperkuat oleh hasil survei LSI pada September 2008, suara partai Islam hanya 17 persen. Masih menurut hasil penelitian para lembaga survei, maka diperkirakan suara umat Islam akan masuk pada partai-partai terbuka / partai-partai nasionalis seperti Golkar, Partai Demokrat dan PDI-P yang akan mendapatkan peningkatan perolehan suara dibanding pemilu tahun lalu. Jika umat Islam bekerja dengan baik, mengambil hikmah masa lampau di masa yang sulit ini karena perpecahan akibat banyaknya partai, sebenarnya umat Islam masih mempunyai peluang untuk menangkan Pemilu Pilpres. Karena jumlah pemilih muslim sesungguhnya adalah 88 persen. Sebagai partai pendukung syariah, maka partai islam memiliki prospek cerah untuk didukung mayoritas rakyat Indonesia. Sebab ada kencenderungan nyata dikalangan umat Islam yang semakin teguh pilihannya untuk kembali pada syariah Islam. Sejumlah survei memperlihatkan bahwa dukungan masyarakat pada penerapan syariah Islam dari hari ke hari makin menguat.


Survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 menunjukkan, 57,8% responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan syariah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Survey tahun 2002 menunjukkan sebanyak 67% (naik sekitar 10%) berpendapat yang sama (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002). Survey tahun 2003 menunjukkan sebanyak 75% setuju dengan pendapat tersebut. Sebanyak 80% mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara (Hasil survey aktivis gerakan nasionalis pada 2006 di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya, Kompas, 4/3/’08). Survey Roy Morgan Research yang dirilis Juni 2008 memperlihatkan, sebanyak 52% orang Indonesia mengatakan, syariah Islam harus diterapkan di wilayah mereka. (The Jakarta Post, 24/6/’08).


Survey terbaru yang dilakukan oleh SEM Institute juga menunjukkan sekitar 72% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah Islam. Poros Masjid Porsi pemilih muslim diperebutkan sedemikian rupa. Partai-partai berbasis Islam makin banyak. Partai-partai nasionalis dan sekuler tapi membungkus diri dengan asesoris-asesoris muslim juga makin banyak. Sementara seperti slogan mereka ”menjadi garam dunia”, tokoh-tokoh kristen sudah menyebar di setiap partai untuk berperan menentukan kebijakan masing-masing partai yang dimasukinya.


Apa yang akan terjadi pada muslim di Indonesia hingga lima tahun kedepan kelak? Akankah ada kesempatan memenangkan syariat Islam jika sistem dikuasai oleh mereka? Mustahil! Namun kita masih mempunyai kesempatan jika mau merubahnya sekarang.


Pembentukan koalisi partai-partai berbasis Islam sepertinya kecil kemungkinan untuk berhasil menyelamatkan suara pemilih Islam yang terebut oleh partai-partai non islam. Dan perlu diingat bahwa jumlah pemilih Golput juga cukup signifikan. Untuk menyelamatkan ini semua (88 persen suara umat Islam) perlu ditempuh suatu upaya, sebuah gerakan nyata dari ummat Islam, lepas dari jalur partai. Sebelum memasuki pemilu, untuk memilih presiden dan wakil presiden, umat Islam harus terlebih dahulu menentukan calon Presiden dan wakil presiden yang diinginkan. Dengan cara demikian suara umat Islam akan utuh dan kemenangan bisa diraih. Bagaimana teknis penentuan, siapa penyelenggaranya dan dimana dilaksanakan? Bisa dilakukan melalui masjid-masjid dengan membentuk POROS MASJID.

Sikap umat Islam di Pemilu 2009
Islam dengan seluruh ajarannya, mengatur semua aspek kehidupan umat manusia. Tidak hanya sebatas mengatur ‘ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (mu’amalah), termasuk pengaturan sistem pemerintahan dan ketatanegaraan. Tujuannya mewujudkan kemaslahatan umat, tegaknya nilai-nilai keadilan di bumi. Jika nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan itu diabaikan, maka sungguh akan terjadi berbagai bentuk diskriminasi, penindasan dan kezaliman. Maka, satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi Indonesia, mewujudkan kemaslahatan bagi umat : Pada pemilu legeslatif, jangan memilih partai yang membuka diri pada caleg kristen. Tapi partai yang berjuang teguh menegakkan syariat Islam! Bentuk POROS MASJID untuk tentukan calon pres dan wapres yang benar-benar diinginkan oleh umat Islam. Melalui POROS MASJID, ummat bersatu untuk pilih hanya satu pasangan. InsyaAllah.

Minggu, 15 Februari 2009

Irena Handono : Hidup Kian Indah dengan Islam


Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada. Di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.

Ketertarikan Irena terhadap Islam bermula ketika ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya menjadi biarawati. Selain mengenyam pendidikan di biara, secara bersamaan Irena juga menekuni pendidikan di Institut Filsafat Teologia. Ia mengambil studi perbandingan agama. Dari sanalah, awal mula ia bersentuhan dengan Islam.

Ketika mempelajari Islamologi, para dosen yang mengajarinya memberikan pengantar. Sang dosen berkata, ''Kalau saya mau mempelajari Islam, lihat saja umat Islam di Indonesia, mereka bagaimana.'' Dari situ, pengajar itu menyimpulkan bahwa umat Islam identik dengan kemiskinan, kebodohan, teroris, dan semua hal yang jelek.

Mendengar penjelasan itu, Irena berpikir keras. Ia tidak serta-merta mengiyakan. Ia berpikir kritis dan berkata, ''Justru simpulan itu perlu diuji karena Islam tidak hanya di Indonesia. Sama halnya dengan Kristen dan Katolik. Kita lihat di Filipina dan Meksiko yang jadi maling, penipu, dan pemabuk itu bukan orang Islam, tapi mereka yang Katolik.''
Dari perdebatan kecil ini, Irena menjadi tertarik mempelajari Islam. Ia pun mengusulkan dan meminta izin kepada dosennya untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya, yaitu Alquran. Usulan itu diterima. Tapi, dengan catatan, ia harus mencari kelemahan Islam. ''Di situlah, untuk pertama kali, saya memegang Alquran,'' ucapnya.

Reaksi yang muncul pertama kali ketika Irena memegang kitab suci Alquran adalah sebuah kebingungan. Ia tidak tahu harus membuka kitab itu dari mana. Huruf-hurufnya pun tidak dikenalnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari Alquran yang ada terjemahannya.

Ketika mempelajari terjemahan, ia masih sempat bingung. Kebingungan itu karena ia tidak mengerti bahwa membaca Alquran dimulai dari kiri. Ia justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Alhasil, yang ia pelajari lebih dulu surat-surat yang letaknya di belakang. Yang pertama kali ia pandang adalah surat Al-Ikhlas. Surat inilah yang memperkenalkan Irena kepada ketauhidan dalam Islam. Pada saat bersamaan, ia sedang menekuni teologia (konsep Tuhan dalam Katolik).

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1973. Setelah membacanya, suara hati Irena membenarkan bahwa Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. ''Ini logis, ini benar, dan bisa diterima serta dipahami,'' ujarnya.

Apa yang ia temukan dalam surat Al-Ikhlas berbeda sekali dengan konsep Tuhan yang dipelajarinya saat kuliah teologia. Dalam teologi Katolik dan Kristen, kata dia, secara keseluruhan konsep Tuhan itu trinitas, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra, dan Tuhan Roh Kudus.

Akhirnya, terjadilah diskusi antara Irena dengan dosennya mengenai konsep ketuhanan hingga mengerucut kepada sejarah gereja. Dari diskusi tersebut, Irena menarik simpulan bahwa Yesus yang selama ini ia yakini sebagai Tuhan hanyalah seorang manusia yang dipertuhankan oleh manusia. Kesimpulan ini menuai kritik dari sang dosen dan menganggap apa yang Irena sampaikan sebagai pemikiran yang sesat dan anti-Kristus.

Tiap malam
Kebiasaan mengkaji Alquran ia teruskan setiap malam. ''Dari awalnya sekadar meneliti, kemudian membenarkan, dan akhirnya saya semakin kagum,'' ungkapnya. Ia pun memutuskan keluar dari biara.

Sekeluarnya dari biara, Irena mencari ustaz yang dianggap bisa membimbingnya untuk mempelajari Islam lebih jauh lagi sebelum memutuskan masuk Islam. Kala itu, tahun 1983, ia mendapat bimbingan dari KH Ahmad Sujai (Alm) dan KH Misbach (Alm), ketua MUI Jawa Timur.Dari penjelasan sederhana mengenai Islam yang diperolehnya dari kedua ustaz tersebut, dengan mantap akhirnya Irena memutuskan menjadi Muslim. Bertepatan satu hari sebelum bulan Ramadhan, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan KH Misbach (Alm) di Masjid Al-Falah, Surabaya.

Konsekuensi dari keputusannya ini, Irena menerima makian hingga teror dari sang suami yang tetap bersikukuh memeluk agama Katolik. Dihadapkan pada pilihan itu, ia memutuskan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berjalan selama enam tahun. Meskipun demikian, toh Irena tetap mensyukuri karena ketiga buah hatinya berhasil ia selamatkan.

Kini, keislamannya sudah berjalan selama 26 tahun. Namun, hingga saat ini, ia masih kerap menerima ancaman teror dan fitnah. Ancaman teror dan fitnah, ungkapnya, tidak hanya datang dari kalangan di luar Islam, tetapi juga dari orang yang menganut Islam. Pengalaman tidak menyenangkan itu ia paparkan dalam bukunya berjudul Menyingkap Fitnah dan Teror.

Di buku itu, Irena mengungkapkan ada 31 macam teror yang pernah ia terima. Teror dan fitnah tersebut, kata dia, mulai dari menyebarkan hasutan bahwa ia seorang penyusup hingga menunjukkan surat pernyataan palsu bermaterai yang menyebutkan bahwa pada 15 November si pembuat pernyataan melihat dirinya keluar dari Katedral di Singapura dengan masih lengkap memakai salib.

Bukannya balik menyerang, justru Irena minta dipertemukan dengan si pembuat surat pernyataan. ''Yang menyebarkan surat pernyataan tadi silakan datang dengan istri dan anak-anaknya. Di sinilah, kita mubahalah (melakukan sumpah) dan disaksikan oleh MUI setempat dan diliput oleh seluruh pers.''

Berbagai teror dan fitnah yang dilancarkan terhadap dirinya ini tidak lantas membuat Irena berhenti untuk menyerukan ajaran Islam. Bahkan, hal tersebut membuatnya terpacu untuk terus melakukan dakwah, baik melalui lisan maupun tulisan. ''Saya anggap itu semua untuk mengurangi dosa saya,'' ujarnya.

Dengan berbagai macam ujian dan peristiwa yang dialaminya semenjak memutuskan menerima Islam, justru ia merasakan hidup yang dijalaninya semakin indah, semakin mulia, dan semakin ia mensyukuri. Ia akhirnya sampai pada suatu simpulan, ''Kalau ingin menjadi manusia seutuhnya, dia bisa melaksanakan fungsi kemanusiaannya dengan baik. Satu-satunya cara adalah menjadi Islam.''

Dalam pandangannya, manusia tanpa Alquran belumlah sempurna. Kesempurnaan itu akan terjadi ketika hamba Allah ini menjadikan Alquran sebagai panduan hidup. ''Yang kita lihat di Tanah Air kita, banyak yang sudah ber-KTP Islam, tapi Alquran belum sebagai panduan hidupnya,'' ucapnya. (nidia zuraya)

-----

BiodataNama : Irena HandonoNama Kecil : Han Hoo LieTempat/tanggal lahir: Surabaya, 30 Juli 1954

Lembaga Katolik yang pernah digelutinya: Biarawati, Seminari Agung (Institut Filsafat Teologia Katolik), Ketua Legio Maria, dan Universitas Katolik Atmajaya Jakarta.

Berkiprah di beberapa lembaga, di antaranya ICMI, PITI, Al-Ma'wa (Pembina Mualaf) Surabaya, Pengasuh Majelis Taklim Al-Muhtadin, Forum Komunikasi Lembaga Pembina Mualaf (FKLPM), Forum Gerakan Anti-Pornografi dan Pornoaksi (FORGAPP), Lembaga Advokasi Muslim (LAM), Gerakan Muslimat Indonesia (GMI), Majlis Ilmuwan Muslimah se-Dunia Cabang Indonesia (MAAI), Muslimah Peduli Umat (MPU), dan Irena Center.

Senin, 22 Desember 2008

Wawancara Hj.Irene Handono : Kenapa Pada Diam?




Bekasi Berbagi Bahagia, kegiatan ini menuai protes umat Islam. Dengan berkedok bantuan social mereka justru melakukan pembaptisan. Begitulah yang terungkap dari wawancara Abidah Wafaa (Sabili) dengan Ustadzah Irena Handono (Kristlog)

Apa beda Pembaptisan dan Pemberkatan?
Dahulu Gus Dur diisukan dibaptis, saya akan mendudukkan bahwa Gusdur itu bukan dibaptis tapi di berkati. Pemberkatan diberikan Oleh gereja yang dianggap sevisi dan semisi. Gus Dur sudah dibaptis atau belum itu diluar konteks tapi yang terjadi saat itu adalah diberkati.

Yang dilakukan Yayasan Mahanaim sendiri?
Nah sekarang yang dilakukan Yayasan Mahanain adalah pembaptisan bukan pemberkatan. Dengan kedok bantuan sosial. Berarti ini dapat disebut pembaptisan atau upaya kristenisasi?Jadi bagaimana pembaptisan tersebut berlangsung, mereka melakukan pembaptisan secara terselubung, atau kristenisasi terselubung. Karena mereka tidak memasang spanduk kristenisasi tapi Bekasi berbagi Bahagia. Lengkap dengan hadiah-hadiahnya. Orang yang datang diberi souvenir salib. Untuk mendapatkan hadiah itu prosesnya satu, mereka didata terlebih dahulu, masuk daftar identitas mereka. Kemudian masuklah proses selanjutnya, dibaptis.Apa artinya baptisBaptis, dalam Islam disebut ikrar dua pengucapan kalimat syahadat. Jadi Baptis adalah gerbang memasuki dunia hidup sebagai umat Kristen.

Meskipun mereka tidak sadar, apakah dapat disebut Mahanaim telah melakukan penipuan?
Nah, sadar berarti pembaptisan itu sah, tidak sadar berarti pembaptisan tidak sah. Sadar atau tidak merupakan hal kedua. Tapi yang dilakukan oleh Mahanain, mereka tidak sadar berarti penipuan dong. Ini yang namanya.

Coba kita lihat proses pembaptisan (penipuan) ini?
Kita lihat foto ini ekspresi dari yang dibaptis dan siapa yang dibaptis. Ibu ini dijeburin masuk bak dalam air, trus dia memakai jilbab. Jilbab muslimah ini, coba lihat mereka ketakutan. Umurnya paling sudah tua, dan Ibu ini tidak tahu menahu. Coba lihat Muslimah ini. Dia dirayu, dikasih hadiah lewat bak ini dahulu, kemudian dia dituntun, maukah dia dituntun? Coba lihat tangannya, dia berontak. Dia mengatakan “ngga mau,” tapi panitia tetap memaksa. Kemudian jilbabnya dibasahkan. Kena air baptis. Meskipun hanya sebagian tetapi tetap pembaptisan. Coba lihat tanpa keikhlasan. Mereka sedang bingung. Mereka tidak mengerti. Berarti yang dilakukan Mahanain adalah penipuan, pemaksaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Di Indonesia orang beragama dijamin kebebasan memilih agama. Mereka kan tau ini muslimah melalui jilbab mereka. Sebodoh apapun mereka tahu ini muslimah.

Berarti Mahanaim telah melanggar HAM?
Ini kan sudah pelecehan, ini harus ditindak oleh aparat hukum mereka. Sebenarnya dengan kejadian ini Polisi sudah menangkap mereka, menyidik mereka. Tidak perlu menunggu laporan. Komnas HAM harus bergerak. Kenapa pada diam? Nah itu dia, ini kan jelas. Apakah HAM itu untuk menyudutkan umat Islam? Hal ini pelecehan, penodaan sebuah agama, pelanggaran Hak Asasi Manusia. Penipuan yang mereka lakukan, sebenarnya berlapis yang dikenai mereka.

Dengan data seperti ini, sebenarnya aparat hukum sudah dapat bertindak dong? Mungkin dahulu ormas tidak punya data, nah sekarang ini jelas sekali fotonya. Coba aja kegelisahannya. Terus bagaimana dampak psikologisnya. Coba aja lihat Ibu tua, remaja. Mereka sudah dibaptis. Mereka tidak mengerti arti pembaptisan. “Engkau sudah dibaptis, engkau sudah masuk dalam Kristen, engkau sudah menerima Yesus, maka dalam benak mereka, Ya Allah saya sudah kafir, si Ibu tadi, bagaimana kalau saya mati? Ini kan kerugian psikologis. Si remaja, menyadari wah kalau gitu kan saya sudah murtad.

Kerugian-kerugian ini yang perlu kita perhatikan juga. Jadi yang dilakukan Mahanaim bukan main-main. Seharusnya penegak hukum memahami hal ini. Dan demi kerukunan umat beragama. Hal ini kan jelas-jelas perbuatan mereka tidak toleran. Ini pelanggaran hukum. Dan jangan hal ini kejadian seperti ini lagi dong. Insya Allah banyak pengacara yang mau melakukan penuntutan hukum seperti ini.

Dan seharusnya penegak hukum bertindak tanpa menunggu laporan untuk menangkap mereka.

Mengatasi Beban psikologis, para korban?
Pertama, Korban ada yang tidak tahu ia merasa tertipu. Tapi yang sangat disayangkan, ia tidak tahu tapi tertipu kemudian putus asa. Korban harus disadarkan bahwa mereka adalah korban penipuan. Perbuatan pembaptisan itu dilakukan perbuatan tanpa sadar. Andaikan dijelaskan pembaptisan. Kalau seperti itu mereka tidak dijelaskan. Kalau ibu tadi tidak mencintai Islam tidak mungkin Ibu tersebut berjilbab. Banyak orang alergi dengan jilbab.Yang dilakukan orang Mahanaim adalah perbuatan yang tidak sah dan itu merupakan pelanggaran hukum. Harus menuntut ganti rugi. Walaupun kerugian spiritual juga besar. Mereka tetap muslimah karena hal tersebut tanpa seizin, tanpa kesadaran, dan melanggar hukum. Ajaklah kembali mengucapkan dua kalimat syahadat, kuatkanlah kembali sehingga yang bersangkutan kembali kepada Islam.

Mengapa harus mengatakan syahadat, bukankah mereka sebenarnya sudah Islam?
Sadar kan dilakukan setiap hari. Dalam setiap sholat kita. Maka ajaklah sholat kembali. Bagi seseorang (kasus seperti ini) syahadat adalah suatu tindakan konkret yang dilakukan ketika dia sudah tertipu, dan dia balik ke Islam untuk meyakinkan dia balik. Ajaklah dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal tersebut akan lebih memperkokoh dan memperkuat keyakinannya. Ucapan Baptis itu seperti apa? ”Aku Baptis engkau atas nama Tuhan Bapak, putra dan Tuhan Ruh Kudus. Jadi Tuhannya tiga. Ini yang disebut syirik. Yang bersangkutan dibaptis tidak perlu mengucapkan apa-apa. Cukup mengatakan Amin. Selesai. Jadi tidak perlu menirukan. Hal yang di situ cukup mengatakan Amin.

Penipuan ini terkesan kejar target?
Mereka kejar target, karena peristiwa oini banyak terjadi ditempat lain. Cari korban, cari mangsa. Setahun dua kali. Hal ini ada miripnya, umat Islam terkena musibah. Gempa bumi, tsunami dll. Banyak sekali mereka meraih keuntungan. Mereka membagi-bagi hadiah. Di buat proposal. Kirim ke negara donor. Tapi mereka biasanya Negara donor yang besar Amerika. Dan grup Negara donor. Andaikan sertiap tempat 200 juta. Padahal nilai yang keluar 20 juta, 10 juta. Ini bisnis kaum Gereja. Katakanlah 180 juta untuk hidup selama 6 bulan. Lebih untung dari pengusaha kecil.

Bagaimana tentang dana tersebut berasal dari dana prajurit?
Mungkin saja dana prajurit tersebut sebagai dana sementara. Dengan dana tersebut mereka dapat mengirim proposal, untuk mengirim dana sementara tersebut. Untungkan. Kalau dikembalikan. Kalau tidak namanya korupsi. Kalau sudah tahu seperti itu dilacak saja secara hukum.

Apakah Ibu mengetahui nama yayasan itu?
Lembaga di Indonesia biasanya berasal dari, ini adalah mata pencaharian mereka. Ford Foundation, Rotary club, Lion club. Banyak nama. Seperti yang masuk di Aceh.Tidak mustahil, memakai nama samaran Islam. Seperti Yayasan Mahanaim. Kegiatan mereka Bekasi Berbagi Bahagia. Sepertinya kan yayasan ini nasionalis. Bahtera, Lentera, Yayasan Kasih, Anugerah.

Dari Irena Center sendiri bagaimana melakukan pengawalan terhadap korban ini?
Irene Center adalah thik thank, lembaga pemikiran menghimpun, mencari, dan mengumpulkan data. Irene Center melontarkan konsep-konsep, baik mereka buat ataupun kalangan umat Islam. Bagaimana untuk mengantisipasi. Untuk bergerak seperti ini, inilah pentingnya ormas. Alhamdulillah ormas di Indonesia memiliki visi dan misi untyuk membentengi akidah umat dari bahaya pemurtadan. Yaitu Gerakan Muslimat Indonesia. Ketua Umum saya sendiri (Irena Handono).

Kita harus berjamaah.Sebenarnya target apa yang ingin mereka capai?
Ada gula ada semut. Orang yang membutuhkan bantuan akan datang. Mereka akan mendata, nama, alamat, tempat tanggal lahir. Dari data tersebut mereka dapat mengklaim umat Islam 500 rb telah beralih ke Kristen. Dengan cara tersebut mereka akan mendongkrak naik persentase Kristen di Indonesia. Kemudian secara bertahap.

Mereka mengklaim bahwa, umat Islam di Indonesia terbesar sudah tidak ada?Apakah ada target (khusus) tahun?
Mereka sudah sering kali buat target, tahun 2000, 2005, 2010, tapi Alhamdulilah gagal. Mudah-mudahan. Dengan demikian saya mengajak para pejuang seluruhnya para pejuang seiman, seakidah, ayo kita berjuang. Sebab kalau perimbangan mereka sudah hampir menyamai. 40 persen saja. Terjadi di Indonesia bagian timur. Tidak mustahil seperti Manokwari sebagai kota Injil. Kalau itu terjadi umat Islam tertindas. Kita tahu dari sejarah bagaimana arogansi mereka. Terjadi di Ambon dan Maluku.

Apakah ini merupakan target global?
Tidak bisa tidak NKRI pecah. Dikerat, dikerat. Sekarang Propinsi yang ingin memerdekakan diri apa modelnya? Ikut mereka, Millah (tatacara-red)mereka dulu. Pengikisan iman dan akidah dulu. Kemudian Umat Islam akan kembali tenggelam dalam penjajahan. Hanya penjajahan sekarang, penjajahan sistem. Program global. Karena mereka (Negara adidaya) tahu dengan persis.

Yang menghalangi mereka siapa?
Islam dan Konfusian. Yang dihabisi terlebih dahulu Islam. Bagaimana cara menghabisi Islam?Dengan adu domba, mencitrakan opini jelek tentang Islam. Dan yang paling menjadi sasaran Rasulullah dan Kitab suci Al Quran. Ini sudah tersistem. Seperti kasus Syeh Puji. Setelah selesai itu apa? Target akhir Rasulullah.

Berarti saat ini kita sedang perang?
Makanya saya menyatakan Sekarang kita sudah perang, tidak dar der dor. Perang sekarang perang pemikiran, perang peradaban, budaya. Negara adidaya memilih perang millennium ini dengan perang peradaban.

Solusi yang harus dilakukan?
Umat Islam harus tahu siapa mereka (sebagai muslim). Visi Misi mereka (sejarah umat muslim/salafus Sholih). Makanya suatu kemutlakan mereka mengetahui visi dan misi mereka. Makanya al-Quran banyak membahas Yahudi dan Nasrani. Tapi umat kita salah memandang tentang diri siapa mereka. Umat kita hanya tahu diri mereka sendiri. Itupun tidak lengkap. Sebagian umat kita hanya mengetahui sebagian dari dirinya. Tidak utuh. Apalagi mengenal mereka (akal bulus umat Nasrani-red)

Bagaimana supaya mereka mengenal dirinya sendiri?
Itulah kewajiban kita. Banyak cara, sekarang ini kita banyak literature. Umat Islam sendiri meninggalkan Iqra. Jujur saja minat baca Indonesia terendah di Asia. Umat Muslim terbesar. Iqra tidak cukup. Untuk itu saya gencar dakwah secara lisan dan tulisan. Saya membuat vcd, saya buat untuk yang tidak mampu membaca buku lama-lama. Saya geram karena pelecehan terhadap Nabi kita Rasulullah dan Allah. Saya membuat buku menyingkap fitnah dan terror. Karena mereka sendiri sebenarnya terror. Cuma umat kita tidak sadar.

Apa yang terjadi apabila umat Islam sendiri tidak mengetahui tentang sejarah mereka?
Di bab pendahuluan ini mengungkap siapa mereka sebenarnya. Dewi konsultasi kepada saya (Irene). Menyesal dengan keislaman. Apa yang terjadi kesalapahaman berangkat ketidaktahuan tentang mereka. Tidak bangga tentang Islam mereka. Mau bukti, coba kita lihat remaja yang lebih barat dibandingkan barat sendiri. Remaja yang lebih Amerika dibandingkan Amerika sendiri. Ada anak tokoh, anaknya dikirim ke Negara yang dibanggakan. Bapaknya Infak shadaqoh tidak perlu dipertanyakan. Ketika bapaknya meninggal memasang pohon natal. Ketika ditanya “just happy”. Tokoh Islam mengatakan perayaan natal merupakan bagian dari kita umat manusia seluruhnya.

Bagaimana mereka mengikis keimanan umat Islam?
Mengikis Iman dan akidah lewat budaya. Seperti di Bekasi. Diiming-imingi dahulu. Mengikis remaja, tidak langsung. Dibuat nyaman dengan budaya mereka. Budaya mereka kan fun, food, fashion. ( sabili )