Antara - Minggu, Juli 5
Bandung (ANTARA) - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) memfasilitasi pelaksanaan "Mubahallah" antara Ustadzah Irena Handono dengan Ketua Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu Efektif dan Aktual, Diki Chandra, Sabtu.
ADVERTISEMENT
Pelaksanaan cara muhaballah yang dipimpin oleh Ketua FUUI KH Athian Ali Muhammad Dai berlangsung di Mesjid Al-Fazri Jalan Cijagra Kota Bandung.
Mubahallah merupakat perangkat sumpah tertinggi dalam Islam dan pekerjaan dalam syariat Islam yang dapat dilaksanakan untuk memperoleh kebenaran ketika tak satupun bisa membuktikannya.
Momen sumpah terberat yang jarang terjadi itu dilakukan atas permintaan Ny Irena yang merasa difitnah oleh Diki Chandra dan Imam Safari yang melaporkan ustadzah itu memakai pakaian lengkap dengan kalung bersimbol agama yang dianut sebelumnya oleh wanita itu.
Keduanya, Ny Irene dan Diki Chandra mengucapkan sumpah "Demi Allah" untuk meminta laknat Allah SWT bila salah satu dari mereka salah.
Namun, Imam Safari yang dianggap menjadi pelapor kasus itu tidak hadir dalam acara mubahallah itu. Meski demikian Ny Irena tetap menyatakan siap "berhadapan" atau mubahallah dengan Diki.
Hadir pada acara pemutusan hukum secara Islam itu Pengurus MUI dan Ketua Dewan Dakwah Islam KH Khalil Ridwan. Peristiwa langka itu disaksikan sekitar seribu jemaah Mesjid Al-Fajri.
Suasana mubahallah berlangsung sangat khidmat, hening dan menegangkan, Ny Irena didampingi oleh suami, tiga anak dan dua orang cucunya.
Sedangkan Diki Chandra didampingi oleh istri dan pengurus Arimatea, tanpa kehadiran anak. Pria itu membacakan sumpahnya lebih awal. Sebelumnya ia meminta perubahan redaksional sumpah terberat dalam hidupnya itu.
Disusul kemudian oleh sumpah oleh Ny Irena Handoyo yang saat itu mengenakan pakaian berwarna coklat muda dengan suara yang lantang.
Pelaksanaan mubahallah itu dilakukan sekitar satu setengah jam mulai pukul 10.30 WIB berakhir pukul 12.15 WIB. Proses Mubahallah itu diakhiri dengan shalat Dzuhur berjamaah.
"Mubahallah ini merupakan jalan terakhir yang diambil secara Islam untuk menyelesaikan sebuah isu fitnah dimana masing-masing tidak mau mengakui kesalahannya. Ini sumpah terberat namun harus dilakukan untuk menyelamatkan umat," kata KH Athian M Ali Dai.
Ia mengakui peristiwa mubahallah ini merupakan yang pertama kali ditemuinya selama hidupnya. Ia mengaku terpaksa memfasilitasi mubahallah itu demi ketenangan umat dan menyelesaikan kasus yang ada.
"Kami sudah meminta Diki menghadirkan dalam acara Mubahallah ini, namun ternyata tidak ada. Saya tidak yakin Imam Safari itu ada atau tidak ada, semuanya Allah yang maha mengetahui," kata Athian.
Sementara itu Ny Irena seusai proses mubahallah itu, Ny Irena menyatakan lega karena bebannya selama ini sudah diselesaikan melalui mubahallah.
"Sekarang saya lega," kata Ny Irena.
Sementara Diki seusai prosesi itu memilih berdiskusi dengan beberapa pengurus Arematea dan bersama jamaah Masji Al Fajri.
Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia, Kholil Ridwan menyebutkan Mubahallah peristiwa langka yang pernah terjadi di tanah air.
"Jika ada yang berbohong maka yang bersangkutan dan seluruh keluarganya akan mendapat kutukan dari Allah SWT," kata Kholil Ridwan.
Hal itu, kata Kholil untuk meneguhkan pencarian kebenaran yang hakiki. Namun di lain pihak ia mendukung proses hukum yang tengah ditempuh dalam kasus dugaan fitnah dan pembunuhan karakter itu.
"Mubahallah adalah cara sesuai Islam, silakan saja proses hukum dilanjutkan karena itu hak masing-masing pihak," kata Kholil.
Sementara itu, Ketua FUUI, KH Athian berharap peristiwa langka mubahallah ini dilakukan hanya untuk mencari kebenaran hakiki dan hanya dilakukan untuk masalah-masalah berat.
"Terus terang baru sekali ini saya menyaksikannya, meski berat kami berkewajiban memfasilitasi mubahallah ini," kata KH Athian menambahkan.
http://www.news.id.finroll.com/news/81751-____fuui-fasilitasi-
http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=117618075515&h=WRzPu&u=-CA4V
Minggu, 05 Juli 2009
Irena Handono : Saya Siap Mubahallah
Irena Handono : Saya Siap Mubahallah
Rabu, 01 Juli 2009 10:27
SABILI
Maraknya pemberitaan yang mengatakan bahwa Irena Handono -mantan biarawati yang kini aktif dalam pembinaan mualaf- terlihat keluar dari gereja di Singapura, berpakaian lengkap bak biarawati, maka digelarlah konferensi pers untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut. Acara yang diprakarsai oleh Kafala Komunika ini berlangsung Rabu (1/7) di Maroush Restaurant, Hotel Crown Semanggi Jakarta.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan perwakilan organisasi dakwah seperti Ketua MUI KH.Cholil Ridwan, Ketua Garda Umat Islam KH. Sulaiman Zachawerus, Tokoh Daarut Tauhid Hj. Ningrum Maurice, Pimpinan Komunitas Cinta Illahi Ust. Kemal Faisal Ferik, Indonesian Comercial Jockey M. Dive Novio, dan ketua Tim Advokasi Irena Handono M. Ichsan, SH serta sejumlah ulama lainnya.
Acara bertajuk “Mengenal Mubahallah sebagai Perangkat Sumpah Tertinggi Dalam Islam, sebuah studi kasus atas fitnah ustadzah Hj. Irena Handono” ini digelar sebagai bentuk upaya penolakan Irena Handono atas fitnah yang menimpa dirinya,
“Selama ini, saya diam saja selama 150 hari”, ujarnya.
Ia juga mengatakan siap bermubahallah kepada pihak-pihak yang memfitnah dirinya. “Ishlah hanya untuk orang-orang mukmin, jika kepada orang fasik kita dituntut untuk bermubahallah, itu kata Allah”, lanjutnya.
Atas saran dari beberapa ulama, ia juga mengajukan tuntutan ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.
Mubahallah tersebut direncanakan akan digelar di Sekretariat Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) di Bandung pada Sabtu, 4 Juli 2009.
Irena Handono merupakan muslimah mantan biarawati yang kini aktif membina para muallaf melalui yayasannya Irena Center. Ia juga aktif menulis buku-buku mengenai upaya kristenisasi dan fitnah-fitnah yang menimpa Islam.
Irena dituduh oleh Diki Chandra, sekretaris jenderal forum ARIMATEA sebagai ‘penyusup’. Tuduhan ini bermula dari pernyataan Imam Safari yang mengaku melihat Irena Handono keluar dari salah satu gereja di Singapura. Tanpa mengklarifikasi masalah ini kepada Irena Handono, Diki Chandra lalu mempublikasikan berita tersebut melalui weblog atas nama Forum ARIMATEA. (Fiqi Listya)
http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=236:irena-handono--saya-siap-mubahallah&catid=82:inkit&Itemid=199
Irena Handono Mengajak Diki Candra Mubahalah
ERAMUSLIM
Rabu, 01/07/2009 15:20 WIB
Konflik antara Diki Candra dari lembaga Arimatea dengan Irena Handono sepertinya tak lagi bisa dibendung. Setelah kemarin kubu Diki melangsungkan konfrensi pers, hari ini (Rabu 1/7) kubu Irena yang mengundang wartawan untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus penegasan soal langkah Irena untuk mengajak kubu Diki melakukan mubahalah.
Mubahalah, menurut KH Khalil Ridwan yang turut hadir di acara ini, merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw. ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Dan masing-masing pihak menyertakan keluarga mereka untuk siap mendapat murka Allah berupa adzabNya jika ternyata berada di pihak yang salah. “Ini pernah dilakukan Rasulullah terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama. Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,” jelas Ustadz Khalil yang juga salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia.
Dari pihak Diki, seperti yang tergambar dalam rekaman video yang diputar di acara Irena ini, ajakan mubahalah ini siap untuk ia ikuti.
Sedianya, mubahalah akan dilangsungkan pada tanggal 4 Juli mendatang di salah satu masjid di Bandung. Siap sebagai pengarah acara mubahalah ini adalah Ustadz Athian Ali yang sudah dikonfirmasi oleh pihak Irena Handono.
Kronologi konflik antara Diki Candra dengan Irena Handono yang keduanya sama-sama bergerak dalam lembaga kristologi dengan istitusi yang berbeda bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa ia melihat Irena Handono keluar dari sebuah gereja di Singapura dan mengenakan busana layaknya seorang biarawati. Dan surat pernyataan ini pun dipublikasi di website Arimatea.
Sejak itu, berbagai pihak termasuk salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia melakukan konfirmasi kepada Irena. Apa benar Irena murtad? Bahkan, tuduhan tidak sekedar itu, malah berkembang menjadi intrik-intrik. Bahwa, Irena dituduh sebagai penyusup dan mempunyai sebuah misi untuk sengaja dimasukkan ke dalam kelompok Islam oleh pihak-pihak tertentu.
Akibat isu ini, beberapa mualaf yang memang sangat gandrung dengan ceramah-ceramah Irena Handono mulai mengalami goncangan. Bahkan, dua orang remaja yang baru masuk Islam, karena menemukan isu ini, dilaporkan kembali ke agama lama mereka alias murtad. “Akibat isu ini, saya dapat kabar bahwa dua remaja kembali ke agama lama mereka,” ujar Irena dengan nada miris.
Setelah seratus lima puluh hari pihak Irena diam terhadap tuduhan dan isu ini, akhirnya pada Mei lalu, tim pengacara Irena mengadukan Diki Candra selaku Sekjen Lembaga Arimatea dan seseorang yang bernama Imam Safari ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.
Sebelumnya, beberapa pihak dari lembaga dakwah Islam juga melakukan tabayun dan ishlah terhadap kedua belah pihak. Sayangnya, upaya ini mengalami jalan buntu. Atas nasihat dari beberapa ustadz, di antaranya KH Khalil Ridwan dan Athian Ali, akhirnya jalan mubahalah ini diambil.
Beberapa tokoh hadir di acara konferensi pers oleh pihak Irena Handono untuk memberikan kesaksian tentang pribadi Irena yang tidak mungkin seperti yang dituduhkan oleh isu tersebut. Di antara mereka Ningrum Maurice dari Daarut Tauhid, Nurdiyati Akma dari Muslimah Peduli Umat, Ratna Zuhry dari Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam, Kemal Faisal Ferik dari Komunitas Cinta Ilahi, dan KH Sulaiman Zachawerus dari Garda Umat Islam. mnh
foto: islamdigest.net
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/irena-handono-mengajak-diki-candra-mubahalah.htm
Kamis, 02 Juli 2009
Ulama Dukung Mubahalah Selesaikan Kasus Irena

Kamis, 02 Juli 2009 pukul 01:30:00
Ulama Dukung Mubahalah Selesaikan Kasus Irena
JAKARTA-- Perseteruan antara Sekjen Forum Arimatea, Diki Candra, dan Hj Irena Handono--keduanya pegiat kristologi yang bergulir sejak lama dan tak kunjung selesai, akan diselesaikan lewat mubahalah pada Sabtu (4/7) di Kota Bandung. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah ormas Islam mendukung Irena untuk melakukan mubahalah , guna menyelesaikan perseteruan yang dialaminya dengan Diki.
Konflik antara Diki dan Irena bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan telah melihat Irena pada 2007 di sebuah gereja di Singapura, berbusana biarawati dan berkalung salib. Surat pernyataan itu pun dipublikasikan di laman web Arimatea.
Sejak dipublikasikannya surat itu, sejumlah pihak termasuk pengurus MUI melakukan konfirmasi kepada Irena. Sebagian umat Islam mempertanyakan kebenaran surat yang dimuat di lawan http: forum-arimatea.blogspot.com itu. Bahkan, kemudian muncul tudingan Irena sebagai penyusup. Irena pun tak terima dengan tuduhan tersebut.Untuk membuktikan siapa yang benar, baik Irena dan Diki siap untuk melakukan mubahalah . Menurut Ketua MUI, KH Cholil Ridwan, mubahalah berasal dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna kutukan atau melaknat.
'' Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah SWT, supaya Allah SWT melaknat dan membinasakan pihak yang bathil,'' tutur Kiai Cholil. Kiai Cholil menuturkan, mubahalah merupakan salah satu sunah Rasulullah SAW, ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Menurut Kiai Cholil, mubahalah pernah dilakukan Rasulullah SAW terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama. ''Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,'' papar Kiai Cholil. Ajakan Irena untuk ber- mubahalah telah diterima pihak Diki.
''Diki juga akan melakukan ini bersama saya di Bandung pada 4 Juli 2009 ini. Saya juga mengajak Imam Safari untuk melakukan mubahalah . Kalau memang ia benar dan berani, seharusnya mereka (Diki dan Imam--Red) tidak takut melakukan mubahalah ,'' tutur Irena yang menjadi mualaf beberapa tahun lalu.
Irena menilai surat yang dipublikasikan di situs arimatea itu sebagai fitnah. ''Bagaimana mungkin, saya tidak pernah ke Singapura,'' papar Irena sembari memperlihatkan paspornya. Menurut Kiai Cholil, mubahalah perlu dilakukan apabila tidak lagi terdapat titik temu antara pihak yang berseteru, karena keduanya merasa yakin dan benar. osa
(-)
Index Koran
http://republika.co.id/koran/14/59722/Ulama_Dukung_I_Mubahalah_I_Selesaikan_Kasus_Irena
Hj Irena Handono Setelah 150 hari diam atas Fitnah FORUM ARIMATEA(FA)
Hj Irena Handono Setelah 150 hari diam atas Fitnah FORUM ARIMATEA(FA)
01 Juli 2009 jam 19:37
http://www.facebook.com/photo.php?pid=30238211&id=1156683597&saved#/note.php?note_id=215234515520&id=719693362&ref=share
Hari ini tanggal 1 juli 2009 jam 10.30 am saya menghadiri Press Conference yang diselenggarakan oleh Kafala Komunika, di Moroush Cafe Crown Hotel, Jakarta.
Sangat ter-iris mendengar kronologis yang dipaparkan dengan slide atas Fitnah dan Teror terhadap ibu Hj Irena Handono
Kasus Fitnah yang digelar dalam press conference ini adalah Fitnah terhadap Hj Irena Handono oleh Diki Candra (Sekjen Arimatea).
Berawal dengan adanya pengakuan seseorang yang bernama Imam Safari:menyatakan telah melihat Hj Irena Handono berpakaian biarawati,berkalung salib dan mengenakan asessoris pakaian biarawati katolik disebuah gereja di Singapura pada tahun 2007.
Tertanggal 13 September 2008 Pernyataan tersebut dituangkan dalam bentuk surat oleh Imam Safari yang juga ditandatangani oleh ; Diki Candra (Sekjen);Khairul Ghozi,Nasrul Soeoed,Djoko Hardjanto,Dzulkifli Nur dan Jefrfy.
Tanggal 21 Feb 2009,Diki Candra memposting satu artikel berjudul Laporan Hasil Investigasi terhadap Irena Handono di weblog (FA)http://forum-arimatea.blogspot.com.
Fitnah terus berkembang dan bahkan,bahkan saya menghubungi langsung pd sdr Diki Candra agar mengklarifikasi dahulu kepada Ibu Hj Irena Handono, dijawab karena dalam tahap investigasi dan penyelidikan justru tidak ditanyakan pada ybs.(maksudnya pd Hj Irena Handono).
Siapakah Imam Safari ? dan Siapakah Diki Candra yang begitu bernafsu nya menyebarkan fitnah atas diri ibu Hj Irena Handono tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu ternyata hal ini bukan hal pertama yang srd Diki Candra lakukan (ada beberapa bukti dan kesaksian al.oleh KH Cholil Ridwan yang hadir dalam press conference hari ini )
Setelah 150 hari atas fitnah terhadap ibu Hj Irena Handono, maka saat nya ibu Hj Irena menjawab dan Melakukan MUBAHALAH yang di fasilitasi oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) bapak Athian Ali Muhammad akan diselenggarakan pada
Hari/tanggal : Sabtu 4 Juli 2009
Jam : 10.30 - dzuhur
tempat : Masjid Al Fajr , Jalan Situsari VI/no2,Cijagra Buah Batu Bandung.
Saya menghimbau kepada teman-teman semua melalui FB ini untuk dapat hadir ,melihat dan mendengar langsung MUBAHALAH antara Hj Irena Handono dan Sdr. Diki Candra.
SISTEM MUBAHALAH DILAKUKAN APABILA TIDAK LAGI TERDAPAT TITIK TEMU ANTARA PIHAK KEBENARAN DENGAN PIHAK YANG BATIL , SEMENTARA PIHAK YANG BATIL INI MASIH BERSIKERAS MENYEBARKAN PEMAHAMANYA YANG BATIL ITU DITENGAH UMAT ISLAM YANG HAQ.
Untuk Informasi lebih lanjut Hub : Ibu Eka Shanty (Fasilitator dari Kafala Komunika ~ Hp 081513480888)
Terimakasih,
Vitri
Rabu, 24 Juni 2009
Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim

Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim
By Republika Newsroom
Kamis, 14 Mei 2009 pukul 16:05:00
‘Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.’
Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ‘’Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,’‘ kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.
Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.
Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ‘’Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,’‘ ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka’bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.
Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten - tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ‘’Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,’‘ ungkapnya.
Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber - sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro - peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me - wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing - ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.
Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung - annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.
Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ‘’Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,’‘ ujarnya.
Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ‘’Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,’‘ ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal.c68/kem
http://www.republika.co.id/berita/51024/Irene_Handono_Menyaksikan_Film_Dirinya_Saat_Masih_Non_Muslim
Selasa, 23 Juni 2009
Irena Center dalam 12 Komunitas Islam bersama Axis Salam
Axis Gandeng Komunitas Islam
By Republika Newsroom
Sabtu, 08 November 2008 pukul 19:31:00
JAKARTA-Axis meluncurkan kartu perdana Axis Salam untuk komunitas Islam. Pada edisi khusus ini, kartu perdana Axis akan memiliki logo komunitas yang dicetak di kemasan kartu Axis Salam. Dengan kartu ini, pelanggan bisa menikmati layanan tausyiah gratis dari pimpinan komunitas dan update informasi terbaru atau agenda kegiatan dari komunitas tersebut.
Kerjasama ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Axis dengan 10 komunitas Islam pertama yang bergabung dalam layanan ini. Komunitas tersebut antara lain Majelis Az Zikra (Komunitas Zikir Arifin Ilham), Daarut Tauhid (komunitas Aa Gym), Tazkia (komunitas Syafii Antonio), Radix Training Center (komunitas Tasawuf Ustz. Wahfiuddin), Irena Center (komunitas muallaf pimpinan ustadzah Irene Handono), komunitas Cinta Rasulullah (Hadad Alwi), Kelompok Super Memori Asmaul Husna (SMASH) dan Klub Majalah Noor.
Penandatangan tersebut dilakukan oleh pimpinan komunitas yang disaksikan oleh Presiden Direktur dan CEO Axis, Erick Aas di Balai kartini, Sabtu (8/11). Untuk tergabung dalam komunitas Axis Salam, setiap komunitas disyaratkan minimal memiliki 1.000 anggota. Kartu Axis Salam edisi khusus ini, dapat dimanfaatkan sebagai media penyebaran informasi kegiatan komunitas, penyambung tali silaturahmi dan membangun networking. Kartu perdana Axis ini dipasarkan dengan harga normal Rp 6.000.
''Ini merupakan upaya Axis untuk membantu untuk menyediakan sarana dakwah bagi komunitas Islam. Mereka dapat menggunakan media seluler untuk menyebarkan tausiyah maupun informasi komunitas,'' ungkap VP Sales & Distribution Axis, Paras M. Nasution.
Manfaat layanan ini juga dibenarkan oleh Irena Handono, pimpinan Irena Center yang berkecimpung dalam pembentengan akidah dan pembinaan mualaf. ''Melalui Axis Salam, nantinya kami akan menyebarkan kajian peradaban dan informasi faktual yang mungkin tidak ada di media namun penting bagi umat Islam dan agenda komunitas,'' paparnya.
Kerjasama ini juga diharapkan bisa mewujudkan pemberdayaan ekonomi umat melalui akses permodalan dan kewirausahaan komunitas Islam. Dimana komunitas ini dapat menjadi mitra distribusi untuk Axis Salam.
''Dengan sistem ini, Insya allah dapat menjadi alternatif lokomotif usaha yang mandiri bagi masjid, pesantren maupun majelis dakwah untuk mengembangkan dakwah Islam diluar zakat infaq dan sadaqah. Hal ini sekaligus menjadi bagian apresiasi kami kepada mereka yang selama ini telah berusaha maksimal dalam pembinaan akhlak masyarakat tanpa pamrih walau di tengah keterbatasan adana,'' ujar Paras.
Sementara itu, Direktur Marketing dan Chief Marketing Officer Axis, Johan Buse menambahkan, peluncuran kartu perdana edisi komunitas Islam ini merupakan salah satu strategi yang dijalankan Axis untuk menghadapi ketatnya persaingan di industri telekomunikasi. ''Komunitas di Indonesia sudah menjadi budaya. Karena itu, Axis ingin menjadi bagian dari komunitas tersebut,'' katanya. mth
http://74.125.153.132/search?q=cache:NPtyLegp5zkJ:www.republika.co.id/berita/12678+irena+handono+axis&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
By Republika Newsroom
Sabtu, 08 November 2008 pukul 19:31:00
JAKARTA-Axis meluncurkan kartu perdana Axis Salam untuk komunitas Islam. Pada edisi khusus ini, kartu perdana Axis akan memiliki logo komunitas yang dicetak di kemasan kartu Axis Salam. Dengan kartu ini, pelanggan bisa menikmati layanan tausyiah gratis dari pimpinan komunitas dan update informasi terbaru atau agenda kegiatan dari komunitas tersebut.
Kerjasama ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Axis dengan 10 komunitas Islam pertama yang bergabung dalam layanan ini. Komunitas tersebut antara lain Majelis Az Zikra (Komunitas Zikir Arifin Ilham), Daarut Tauhid (komunitas Aa Gym), Tazkia (komunitas Syafii Antonio), Radix Training Center (komunitas Tasawuf Ustz. Wahfiuddin), Irena Center (komunitas muallaf pimpinan ustadzah Irene Handono), komunitas Cinta Rasulullah (Hadad Alwi), Kelompok Super Memori Asmaul Husna (SMASH) dan Klub Majalah Noor.
Penandatangan tersebut dilakukan oleh pimpinan komunitas yang disaksikan oleh Presiden Direktur dan CEO Axis, Erick Aas di Balai kartini, Sabtu (8/11). Untuk tergabung dalam komunitas Axis Salam, setiap komunitas disyaratkan minimal memiliki 1.000 anggota. Kartu Axis Salam edisi khusus ini, dapat dimanfaatkan sebagai media penyebaran informasi kegiatan komunitas, penyambung tali silaturahmi dan membangun networking. Kartu perdana Axis ini dipasarkan dengan harga normal Rp 6.000.
''Ini merupakan upaya Axis untuk membantu untuk menyediakan sarana dakwah bagi komunitas Islam. Mereka dapat menggunakan media seluler untuk menyebarkan tausiyah maupun informasi komunitas,'' ungkap VP Sales & Distribution Axis, Paras M. Nasution.
Manfaat layanan ini juga dibenarkan oleh Irena Handono, pimpinan Irena Center yang berkecimpung dalam pembentengan akidah dan pembinaan mualaf. ''Melalui Axis Salam, nantinya kami akan menyebarkan kajian peradaban dan informasi faktual yang mungkin tidak ada di media namun penting bagi umat Islam dan agenda komunitas,'' paparnya.
Kerjasama ini juga diharapkan bisa mewujudkan pemberdayaan ekonomi umat melalui akses permodalan dan kewirausahaan komunitas Islam. Dimana komunitas ini dapat menjadi mitra distribusi untuk Axis Salam.
''Dengan sistem ini, Insya allah dapat menjadi alternatif lokomotif usaha yang mandiri bagi masjid, pesantren maupun majelis dakwah untuk mengembangkan dakwah Islam diluar zakat infaq dan sadaqah. Hal ini sekaligus menjadi bagian apresiasi kami kepada mereka yang selama ini telah berusaha maksimal dalam pembinaan akhlak masyarakat tanpa pamrih walau di tengah keterbatasan adana,'' ujar Paras.
Sementara itu, Direktur Marketing dan Chief Marketing Officer Axis, Johan Buse menambahkan, peluncuran kartu perdana edisi komunitas Islam ini merupakan salah satu strategi yang dijalankan Axis untuk menghadapi ketatnya persaingan di industri telekomunikasi. ''Komunitas di Indonesia sudah menjadi budaya. Karena itu, Axis ingin menjadi bagian dari komunitas tersebut,'' katanya. mth
http://74.125.153.132/search?q=cache:NPtyLegp5zkJ:www.republika.co.id/berita/12678+irena+handono+axis&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
Langganan:
Postingan (Atom)