Minggu, 05 Juli 2009

Perang Selebaran Jelang Mubahalah

Perang Selebaran Jelang Mubahalah
Ditulis Oleh Administrator
Saturday, 04 July 2009

ALHIKMAHONLINE.COM— Beberapa saat menjelang Mubahalah antara Hj. Irena Handono dan Diki Candra (Sekjen Forum Arimatea) berlangsung di Masjid Al-Fajr, Cijagra, Bandung, Sabtu pagi (4/7), perang selebaran terjadi di antara kedua belah pihak. Ribuan umat Islam hadir dalam perhelatan langka yang difasilitasi Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) Pimpinan KH. Athian Ali M. Da’i ini.



Diki Candra yang datang lebih awal, beserta keluarga dan beberapa rekannya membagi-bagikan dua buah selebaran dari Arimatea. Satu selebaran berisi pernyataan sikap Arimatea menyangkut ajakan mubahalah dari Irena Handono. Arimatea menganggap apapun alasannya, Irena Handono telah melanggar kesepakatan dengan mengundang wartawan pada Rabu 1 Juli 2009 lalu di Semanggi Jakarta Pusat , dan selalu mengalihkan pandangan ajakan Irena itu Mubahalah dengan Diki Candra, bukan dengan Imam Safari.

Selebaran lainnya berisi profil singkat perjalanan Arimatea selama 5 tahun (2003-2008), yang memperlihatkan sinergi Arimate dengan berbagai ormas Islam, antara lain: NU, Muhammadiyah, Dewan Da’wah, Ikhwanul Muslimin, Persis, Wahdah Islamiyyah dan Ormas Islam lain.



Sedangkan di selebaran dari tim Irena Centre tertulis judul tulisan ”Diki Candra Aktor Intelektual Sekaligus Pelaku Fitnah terhadap Hj. Irena Handono”. Tulisan tersebut diakhiri dengan kalimat, ”Hanya pendusta dan kaum munafik yang menolak mubahalah karena mulutnya penuh fitnah dan dusta.”

Dalam mubahalah tersebut Irena Handono hadir beserta suami, tiga anaknya, dua cucu (yang satu usianya satu bulan) beserta menantunya.

Mubahalah sendiri menurut informasi yang berhasil alhikmahonline himpun, berasal dari kata bahlah atau buhlah, yang bermakna kutukan atau melaknat. Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya Allah melaknat dan membinasakan pihak yang batil atau menyalahi pihak kebenaran.

Peristiwa mubahalah pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw terhadap pendeta Kristen dari Najran pada tahun ke-9 Hijriah, sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Ali Imron ayat 61.

Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran/ 3:61)

Mubahalah yang pernah diajukan oleh Rasul pada masa itu bukan karena kehabisan kata, tetapi untuk mencari titik puncak penyelesaian semua diskusi. Sebab tidak mungkin Islam mengakui ketuhanan al-Masih yang jelas-jelas manusia biasa dan Rasul Allah sementara kaum kristen Najran yang trinitas itupun tidak mau menerima konsepsi Tauhid Islam dan tetap mempertahankan keberhalaannya. Meskipun dalam hal ini Abu Haritsah bin 'alqamah (satu dari 3 orang pimpinan Najran) sebenarnya mengakui kebenaran Islam dan kenabian Muhammad.

(M.yasin/alhikmahonline)

http://www.alhikmahonline.com/content/view/363/15/

KH Kholil Ridwan Bicara Soal Diki Chandra



KH Kholil Ridwan Bicara Soal Diki Chandra
SABILI Jumat, 03 Juli 2009 14:13

Tidak Menguntungkan Kalau Berhadapan dengan MUI

Permasalahan antara Diki Chandra dari ARIMATEA dengan Hj Irena Handono menyeret-nyeret MUI sebagai lembaga representasi umat. Diki Chandra menganggap MUI membela Irena Handono.

Apa sebenarnya yang terjadi antara MUI dan Diki Chandra?

Bagaimana hubungan MUI dan ARIMATEA secara lembaga?

Berikut petikan wawancara Fiqi Listya dari Sabili dengan KH. Cholil Ridwan salah seorang Ketua MUI yang ditemui setelah acara konferensi pers Irena Handono Rabu, (1/7) di Hotel Crown Semanggi Jakarta.

ARIMATEA dalam hal ini Diki Chandra, menganggap MUI seolah pilih kasih terhadap kasus Diki Chandra dan Irena Handono. Tanggapan Anda?

Waktu itu kan ada acara seminar lokakarya. Acara itu jauh hari sebelum ada kasus Irena dan Diki Chandra mencuat. MUI rencananya memang mau mengundang ibu Irena sebagai narasumber. Kemudian, Arimatea datang ke acara lokakarya.
Jadi MUI berniat mengklarifikasi dulu dengan beberapa orang yang mengatakan informasi miring dengan Diki Chandra bukan ARIMATEA-nya.
Karena kesibukan masing-masing, rupanya tidak sempat. Tahu-tahu Lokakarya sudah harus jalan. Tapi, sebelum acara dimulai, Diki Chandra menyebar selebaran. Tapi kita tidak mempersalahkan.
Ketika ibu Irena akan menyampaikan materinya, beliau (Irena) meminta waktu untuk menjelaskan kasusnya dengan Diki Chandra. Sekali lagi dengan Diki Chandra, bukan dengan ARIMATEA.

Berarti ini masalah Irena Handono dengan ARIMATEA secara lembaga atau Diki Chandra secara pribadi?

Saya kira ini dengan Diki Chandra. Hanya saja Diki Chandra menggunakan nama ARIMATEA. Kop surat yang digunakan untuk surat pernyataan Imam Safari kan kop surat ARIMATEA. Nah saya kok dilibatkan? Seolah-olah saya tidak adil. Kenapa saya tidak tabayun kepada Diki Chandra. Seharusnya kan yang tabayun itu dia dengan Ibu Irena.
Coba Anda bayangkan, MUI sebagai lembaga tertinggi sebagai representasi umat, saya sebagai ketuanya, masa harus tabayun ke dia, kan seharusnya dia datang tabayun, mendengar ada berita tentang Ibu Irena keluar dari gereja dan sebagainya, tidak menulis diblog. Dia datang dong, kalau dia dengar bahwa Ibu Irena dikasih waktu ngomong, dia ya datang ke MUI, minta dikasih ngomong, bilang ‘Ibu Irena dikasih ngomong kok saya tidak’, nah tabayun kan namanya, tidak menyebarkan diblog. Berarti dia kan yang menambah fitnah. Kan tidak menguntungkan dia (Diki Chandra) kalau berhadapan dengan MUI. Kalau dia berada di pihak yang benar, mestinya dia tidak berhadapan dengan MUI. Diki Chandra seharusnya merangkul MUI, ya datanglah, masa saya yang datang ke dia.

Hubungan ARIMATEA dengan MUI sampai saat ini bagaimana?

Tidak ada apa-apa. Itu kan lembaga. Cuma memang Diki Chandra kemarin sengaja tidak kita undang karena ada informasi miring. Kita mau tabayun dulu. Cuma belum sempat tabayun, acara sudah berjalan.

Berarti ini masalah antara Diki Chandra saja, tidak ada hubungannya dengan ARIMATEA?

itu kan nama ARIMATEA yang memberikan bukan Diki Chandra, pendirinya bukan dia. Jadi pendiri ARIMATEA itu Buya Abujamin Roham. Beliau setelah dua tahun Diki Chandra menjadi Sekjen, melihat Diki Chandra tidak beres, akhirnya beliau mengundurkan diri. Banyak yang mengundurkan diri, termasuk pendiri yayasan tersebut. Yang mendirikan bukan Diki Chandra. Paling tidak Diki Chandra hanya salah seorang, tapi tokohnya Buya Abujamin Roham.

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=245:kh-kholil-ridwan-bicara-soal-diki-chandra&catid=83:wawancara&Itemid=200

FUUI Fasilitasi "Mubahallah" Irena Handono - Diki Chandra

Antara - Minggu, Juli 5
Bandung (ANTARA) - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) memfasilitasi pelaksanaan "Mubahallah" antara Ustadzah Irena Handono dengan Ketua Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu Efektif dan Aktual, Diki Chandra, Sabtu.
ADVERTISEMENT

Pelaksanaan cara muhaballah yang dipimpin oleh Ketua FUUI KH Athian Ali Muhammad Dai berlangsung di Mesjid Al-Fazri Jalan Cijagra Kota Bandung.

Mubahallah merupakat perangkat sumpah tertinggi dalam Islam dan pekerjaan dalam syariat Islam yang dapat dilaksanakan untuk memperoleh kebenaran ketika tak satupun bisa membuktikannya.

Momen sumpah terberat yang jarang terjadi itu dilakukan atas permintaan Ny Irena yang merasa difitnah oleh Diki Chandra dan Imam Safari yang melaporkan ustadzah itu memakai pakaian lengkap dengan kalung bersimbol agama yang dianut sebelumnya oleh wanita itu.

Keduanya, Ny Irene dan Diki Chandra mengucapkan sumpah "Demi Allah" untuk meminta laknat Allah SWT bila salah satu dari mereka salah.

Namun, Imam Safari yang dianggap menjadi pelapor kasus itu tidak hadir dalam acara mubahallah itu. Meski demikian Ny Irena tetap menyatakan siap "berhadapan" atau mubahallah dengan Diki.

Hadir pada acara pemutusan hukum secara Islam itu Pengurus MUI dan Ketua Dewan Dakwah Islam KH Khalil Ridwan. Peristiwa langka itu disaksikan sekitar seribu jemaah Mesjid Al-Fajri.

Suasana mubahallah berlangsung sangat khidmat, hening dan menegangkan, Ny Irena didampingi oleh suami, tiga anak dan dua orang cucunya.

Sedangkan Diki Chandra didampingi oleh istri dan pengurus Arimatea, tanpa kehadiran anak. Pria itu membacakan sumpahnya lebih awal. Sebelumnya ia meminta perubahan redaksional sumpah terberat dalam hidupnya itu.

Disusul kemudian oleh sumpah oleh Ny Irena Handoyo yang saat itu mengenakan pakaian berwarna coklat muda dengan suara yang lantang.

Pelaksanaan mubahallah itu dilakukan sekitar satu setengah jam mulai pukul 10.30 WIB berakhir pukul 12.15 WIB. Proses Mubahallah itu diakhiri dengan shalat Dzuhur berjamaah.

"Mubahallah ini merupakan jalan terakhir yang diambil secara Islam untuk menyelesaikan sebuah isu fitnah dimana masing-masing tidak mau mengakui kesalahannya. Ini sumpah terberat namun harus dilakukan untuk menyelamatkan umat," kata KH Athian M Ali Dai.

Ia mengakui peristiwa mubahallah ini merupakan yang pertama kali ditemuinya selama hidupnya. Ia mengaku terpaksa memfasilitasi mubahallah itu demi ketenangan umat dan menyelesaikan kasus yang ada.

"Kami sudah meminta Diki menghadirkan dalam acara Mubahallah ini, namun ternyata tidak ada. Saya tidak yakin Imam Safari itu ada atau tidak ada, semuanya Allah yang maha mengetahui," kata Athian.

Sementara itu Ny Irena seusai proses mubahallah itu, Ny Irena menyatakan lega karena bebannya selama ini sudah diselesaikan melalui mubahallah.

"Sekarang saya lega," kata Ny Irena.

Sementara Diki seusai prosesi itu memilih berdiskusi dengan beberapa pengurus Arematea dan bersama jamaah Masji Al Fajri.

Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia, Kholil Ridwan menyebutkan Mubahallah peristiwa langka yang pernah terjadi di tanah air.

"Jika ada yang berbohong maka yang bersangkutan dan seluruh keluarganya akan mendapat kutukan dari Allah SWT," kata Kholil Ridwan.

Hal itu, kata Kholil untuk meneguhkan pencarian kebenaran yang hakiki. Namun di lain pihak ia mendukung proses hukum yang tengah ditempuh dalam kasus dugaan fitnah dan pembunuhan karakter itu.

"Mubahallah adalah cara sesuai Islam, silakan saja proses hukum dilanjutkan karena itu hak masing-masing pihak," kata Kholil.

Sementara itu, Ketua FUUI, KH Athian berharap peristiwa langka mubahallah ini dilakukan hanya untuk mencari kebenaran hakiki dan hanya dilakukan untuk masalah-masalah berat.

"Terus terang baru sekali ini saya menyaksikannya, meski berat kami berkewajiban memfasilitasi mubahallah ini," kata KH Athian menambahkan.

http://www.news.id.finroll.com/news/81751-____fuui-fasilitasi-

http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=117618075515&h=WRzPu&u=-CA4V

Irena Handono : Saya Siap Mubahallah



Irena Handono : Saya Siap Mubahallah
Rabu, 01 Juli 2009 10:27

SABILI
Maraknya pemberitaan yang mengatakan bahwa Irena Handono -mantan biarawati yang kini aktif dalam pembinaan mualaf- terlihat keluar dari gereja di Singapura, berpakaian lengkap bak biarawati, maka digelarlah konferensi pers untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut. Acara yang diprakarsai oleh Kafala Komunika ini berlangsung Rabu (1/7) di Maroush Restaurant, Hotel Crown Semanggi Jakarta.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan perwakilan organisasi dakwah seperti Ketua MUI KH.Cholil Ridwan, Ketua Garda Umat Islam KH. Sulaiman Zachawerus, Tokoh Daarut Tauhid Hj. Ningrum Maurice, Pimpinan Komunitas Cinta Illahi Ust. Kemal Faisal Ferik, Indonesian Comercial Jockey M. Dive Novio, dan ketua Tim Advokasi Irena Handono M. Ichsan, SH serta sejumlah ulama lainnya.

Acara bertajuk “Mengenal Mubahallah sebagai Perangkat Sumpah Tertinggi Dalam Islam, sebuah studi kasus atas fitnah ustadzah Hj. Irena Handono” ini digelar sebagai bentuk upaya penolakan Irena Handono atas fitnah yang menimpa dirinya,

“Selama ini, saya diam saja selama 150 hari”, ujarnya.

Ia juga mengatakan siap bermubahallah kepada pihak-pihak yang memfitnah dirinya. “Ishlah hanya untuk orang-orang mukmin, jika kepada orang fasik kita dituntut untuk bermubahallah, itu kata Allah”, lanjutnya.

Atas saran dari beberapa ulama, ia juga mengajukan tuntutan ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.

Mubahallah tersebut direncanakan akan digelar di Sekretariat Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) di Bandung pada Sabtu, 4 Juli 2009.


Irena Handono merupakan muslimah mantan biarawati yang kini aktif membina para muallaf melalui yayasannya Irena Center. Ia juga aktif menulis buku-buku mengenai upaya kristenisasi dan fitnah-fitnah yang menimpa Islam.

Irena dituduh oleh Diki Chandra, sekretaris jenderal forum ARIMATEA sebagai ‘penyusup’. Tuduhan ini bermula dari pernyataan Imam Safari yang mengaku melihat Irena Handono keluar dari salah satu gereja di Singapura. Tanpa mengklarifikasi masalah ini kepada Irena Handono, Diki Chandra lalu mempublikasikan berita tersebut melalui weblog atas nama Forum ARIMATEA. (Fiqi Listya)

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=236:irena-handono--saya-siap-mubahallah&catid=82:inkit&Itemid=199

Irena Handono Mengajak Diki Candra Mubahalah



ERAMUSLIM
Rabu, 01/07/2009 15:20 WIB

Konflik antara Diki Candra dari lembaga Arimatea dengan Irena Handono sepertinya tak lagi bisa dibendung. Setelah kemarin kubu Diki melangsungkan konfrensi pers, hari ini (Rabu 1/7) kubu Irena yang mengundang wartawan untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus penegasan soal langkah Irena untuk mengajak kubu Diki melakukan mubahalah.

Mubahalah, menurut KH Khalil Ridwan yang turut hadir di acara ini, merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw. ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Dan masing-masing pihak menyertakan keluarga mereka untuk siap mendapat murka Allah berupa adzabNya jika ternyata berada di pihak yang salah. “Ini pernah dilakukan Rasulullah terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama. Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,” jelas Ustadz Khalil yang juga salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia.

Dari pihak Diki, seperti yang tergambar dalam rekaman video yang diputar di acara Irena ini, ajakan mubahalah ini siap untuk ia ikuti.

Sedianya, mubahalah akan dilangsungkan pada tanggal 4 Juli mendatang di salah satu masjid di Bandung. Siap sebagai pengarah acara mubahalah ini adalah Ustadz Athian Ali yang sudah dikonfirmasi oleh pihak Irena Handono.

Kronologi konflik antara Diki Candra dengan Irena Handono yang keduanya sama-sama bergerak dalam lembaga kristologi dengan istitusi yang berbeda bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa ia melihat Irena Handono keluar dari sebuah gereja di Singapura dan mengenakan busana layaknya seorang biarawati. Dan surat pernyataan ini pun dipublikasi di website Arimatea.

Sejak itu, berbagai pihak termasuk salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia melakukan konfirmasi kepada Irena. Apa benar Irena murtad? Bahkan, tuduhan tidak sekedar itu, malah berkembang menjadi intrik-intrik. Bahwa, Irena dituduh sebagai penyusup dan mempunyai sebuah misi untuk sengaja dimasukkan ke dalam kelompok Islam oleh pihak-pihak tertentu.

Akibat isu ini, beberapa mualaf yang memang sangat gandrung dengan ceramah-ceramah Irena Handono mulai mengalami goncangan. Bahkan, dua orang remaja yang baru masuk Islam, karena menemukan isu ini, dilaporkan kembali ke agama lama mereka alias murtad. “Akibat isu ini, saya dapat kabar bahwa dua remaja kembali ke agama lama mereka,” ujar Irena dengan nada miris.

Setelah seratus lima puluh hari pihak Irena diam terhadap tuduhan dan isu ini, akhirnya pada Mei lalu, tim pengacara Irena mengadukan Diki Candra selaku Sekjen Lembaga Arimatea dan seseorang yang bernama Imam Safari ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.

Sebelumnya, beberapa pihak dari lembaga dakwah Islam juga melakukan tabayun dan ishlah terhadap kedua belah pihak. Sayangnya, upaya ini mengalami jalan buntu. Atas nasihat dari beberapa ustadz, di antaranya KH Khalil Ridwan dan Athian Ali, akhirnya jalan mubahalah ini diambil.

Beberapa tokoh hadir di acara konferensi pers oleh pihak Irena Handono untuk memberikan kesaksian tentang pribadi Irena yang tidak mungkin seperti yang dituduhkan oleh isu tersebut. Di antara mereka Ningrum Maurice dari Daarut Tauhid, Nurdiyati Akma dari Muslimah Peduli Umat, Ratna Zuhry dari Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam, Kemal Faisal Ferik dari Komunitas Cinta Ilahi, dan KH Sulaiman Zachawerus dari Garda Umat Islam. mnh

foto: islamdigest.net
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/irena-handono-mengajak-diki-candra-mubahalah.htm

Kamis, 02 Juli 2009

Ulama Dukung Mubahalah Selesaikan Kasus Irena


Kamis, 02 Juli 2009 pukul 01:30:00
Ulama Dukung Mubahalah Selesaikan Kasus Irena

JAKARTA-- Perseteruan antara Sekjen Forum Arimatea, Diki Candra, dan Hj Irena Handono--keduanya pegiat kristologi yang bergulir sejak lama dan tak kunjung selesai, akan diselesaikan lewat mubahalah pada Sabtu (4/7) di Kota Bandung. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah ormas Islam mendukung Irena untuk melakukan mubahalah , guna menyelesaikan perseteruan yang dialaminya dengan Diki.

Konflik antara Diki dan Irena bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan telah melihat Irena pada 2007 di sebuah gereja di Singapura, berbusana biarawati dan berkalung salib. Surat pernyataan itu pun dipublikasikan di laman web Arimatea.

Sejak dipublikasikannya surat itu, sejumlah pihak termasuk pengurus MUI melakukan konfirmasi kepada Irena. Sebagian umat Islam mempertanyakan kebenaran surat yang dimuat di lawan http: forum-arimatea.blogspot.com itu. Bahkan, kemudian muncul tudingan Irena sebagai penyusup. Irena pun tak terima dengan tuduhan tersebut.Untuk membuktikan siapa yang benar, baik Irena dan Diki siap untuk melakukan mubahalah . Menurut Ketua MUI, KH Cholil Ridwan, mubahalah berasal dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna kutukan atau melaknat.

'' Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah SWT, supaya Allah SWT melaknat dan membinasakan pihak yang bathil,'' tutur Kiai Cholil. Kiai Cholil menuturkan, mubahalah merupakan salah satu sunah Rasulullah SAW, ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Menurut Kiai Cholil, mubahalah pernah dilakukan Rasulullah SAW terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama. ''Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,'' papar Kiai Cholil. Ajakan Irena untuk ber- mubahalah telah diterima pihak Diki.

''Diki juga akan melakukan ini bersama saya di Bandung pada 4 Juli 2009 ini. Saya juga mengajak Imam Safari untuk melakukan mubahalah . Kalau memang ia benar dan berani, seharusnya mereka (Diki dan Imam--Red) tidak takut melakukan mubahalah ,'' tutur Irena yang menjadi mualaf beberapa tahun lalu.

Irena menilai surat yang dipublikasikan di situs arimatea itu sebagai fitnah. ''Bagaimana mungkin, saya tidak pernah ke Singapura,'' papar Irena sembari memperlihatkan paspornya. Menurut Kiai Cholil, mubahalah perlu dilakukan apabila tidak lagi terdapat titik temu antara pihak yang berseteru, karena keduanya merasa yakin dan benar. osa


(-)
Index Koran

http://republika.co.id/koran/14/59722/Ulama_Dukung_I_Mubahalah_I_Selesaikan_Kasus_Irena

Hj Irena Handono Setelah 150 hari diam atas Fitnah FORUM ARIMATEA(FA)




Hj Irena Handono Setelah 150 hari diam atas Fitnah FORUM ARIMATEA(FA)
01 Juli 2009 jam 19:37

http://www.facebook.com/photo.php?pid=30238211&id=1156683597&saved#/note.php?note_id=215234515520&id=719693362&ref=share

Hari ini tanggal 1 juli 2009 jam 10.30 am saya menghadiri Press Conference yang diselenggarakan oleh Kafala Komunika, di Moroush Cafe Crown Hotel, Jakarta.

Sangat ter-iris mendengar kronologis yang dipaparkan dengan slide atas Fitnah dan Teror terhadap ibu Hj Irena Handono

Kasus Fitnah yang digelar dalam press conference ini adalah Fitnah terhadap Hj Irena Handono oleh Diki Candra (Sekjen Arimatea).
Berawal dengan adanya pengakuan seseorang yang bernama Imam Safari:menyatakan telah melihat Hj Irena Handono berpakaian biarawati,berkalung salib dan mengenakan asessoris pakaian biarawati katolik disebuah gereja di Singapura pada tahun 2007.

Tertanggal 13 September 2008 Pernyataan tersebut dituangkan dalam bentuk surat oleh Imam Safari yang juga ditandatangani oleh ; Diki Candra (Sekjen);Khairul Ghozi,Nasrul Soeoed,Djoko Hardjanto,Dzulkifli Nur dan Jefrfy.
Tanggal 21 Feb 2009,Diki Candra memposting satu artikel berjudul Laporan Hasil Investigasi terhadap Irena Handono di weblog (FA)http://forum-arimatea.blogspot.com.

Fitnah terus berkembang dan bahkan,bahkan saya menghubungi langsung pd sdr Diki Candra agar mengklarifikasi dahulu kepada Ibu Hj Irena Handono, dijawab karena dalam tahap investigasi dan penyelidikan justru tidak ditanyakan pada ybs.(maksudnya pd Hj Irena Handono).

Siapakah Imam Safari ? dan Siapakah Diki Candra yang begitu bernafsu nya menyebarkan fitnah atas diri ibu Hj Irena Handono tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu ternyata hal ini bukan hal pertama yang srd Diki Candra lakukan (ada beberapa bukti dan kesaksian al.oleh KH Cholil Ridwan yang hadir dalam press conference hari ini )

Setelah 150 hari atas fitnah terhadap ibu Hj Irena Handono, maka saat nya ibu Hj Irena menjawab dan Melakukan MUBAHALAH yang di fasilitasi oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) bapak Athian Ali Muhammad akan diselenggarakan pada
Hari/tanggal : Sabtu 4 Juli 2009
Jam : 10.30 - dzuhur
tempat : Masjid Al Fajr , Jalan Situsari VI/no2,Cijagra Buah Batu Bandung.

Saya menghimbau kepada teman-teman semua melalui FB ini untuk dapat hadir ,melihat dan mendengar langsung MUBAHALAH antara Hj Irena Handono dan Sdr. Diki Candra.

SISTEM MUBAHALAH DILAKUKAN APABILA TIDAK LAGI TERDAPAT TITIK TEMU ANTARA PIHAK KEBENARAN DENGAN PIHAK YANG BATIL , SEMENTARA PIHAK YANG BATIL INI MASIH BERSIKERAS MENYEBARKAN PEMAHAMANYA YANG BATIL ITU DITENGAH UMAT ISLAM YANG HAQ.

Untuk Informasi lebih lanjut Hub : Ibu Eka Shanty (Fasilitator dari Kafala Komunika ~ Hp 081513480888)


Terimakasih,
Vitri